https://pacitan.times.co.id/
Berita

Detik-detik Gempa Pacitan, Teras Ambruk, Dapur Rata Tanah, Warga Masih Trauma

Jumat, 06 Februari 2026 - 05:35
Detik-detik Gempa Pacitan, Teras Ambruk, Dapur Rata Tanah, Warga Masih Trauma Sumarno (64) warga RT 03/RW 03 Lingkungan Kebon, Kelurahan Ploso, Pacitan sesaat setelah teras rumahnya ambruk diguncang gempa bumi. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES PACITAN – Gempa bumi bermagnitudo 6,4 yang mengguncang Pacitan, Jawa Timur, Jumat (6/2/2026) dini hari, menyisakan cerita pilu bagi warga. 

Sejumlah rumah rusak, mulai dari teras ambruk hingga dapur rata dengan tanah. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi para korban.

Salah satu warga terdampak, Sumarno (64), warga RT 03/RW 03 Lingkungan Kebon, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, mengaku nyaris menjadi korban saat gempa terjadi. 

Saat itu, ia bersama keluarga sedang terlelap tidur.

gempa-bumi-b.jpg

Agus Susanto, warga RT 02/RW 03 Lingkungan Gantung Wetan, Kelurahan Pacitan dapur miliknya rata dengan tanah akibat gempa bumi. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

“Tadi langsung bres gitu belum sempat keluar rumah, kedahuluan teras ini ambruk. Saya sudah tidur. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Beruntung tidak sampai keluar. Anak saya sempat mau buka pintu. Ya jelas panik,” tutur Sumarno saat ditemui di lokasi kejadian.

Bagian teras rumah Sumarno yang ambruk sebelumnya digunakan sebagai tempat parkir angkutan. Namun, usaha tersebut sudah lama tutup akibat sepinya penumpang.

“Ini teras. Dulunya buat parkir angkutan. Karena sepi andongan akhirnya bangkrut tutup. Saya jual semua,” ungkapnya.

Akibat gempa tersebut, struktur bangunan rumahnya mengalami kerusakan cukup parah. Tiang penyangga atap dari baja ringan roboh, disusul runtuhnya kayu dan genteng.

gempa-bumi-c.jpg

“Semua balok cor tiang penyangga atap teras baja ringan ambruk. Kayu dan genteng juga ambruk,” jelasnya.

Sumarno memperkirakan usia bangunan tersebut sekitar 10 tahun. Ia bersyukur gempa tidak berlangsung lama.

“Sekitar 10 tahunan usianya. Kalau rumah lebih lama lagi. Kalau lama gempanya, pasti rumah belakang ketarik. Seumpama lebih besar lagi dengan durasi yang lama pasti rata dengan tanah,” katanya.

Di bagian dalam rumah, beberapa tembok juga mengalami retakan. Kerugian material yang dialaminya ditaksir mencapai lebih dari Rp20 juta.

“Kisaran kerugian ditaksir Rp20 juta lebih. Tembok dalam rumah juga ada yang retak,” imbuhnya.

Saat ini, Sumarno tinggal bersama istri dan anaknya. Meski selamat, trauma masih dirasakan keluarganya.

“Saya tinggal bersama anak dan istri. Sekarang masih trauma. Hanya kaget saja awalnya. Suaranya brok. Keadaan saya di dalam,” ujarnya.

Rencananya, ia baru akan membersihkan puing-puing bangunan pada pagi hari dengan bantuan warga sekitar.

“Besok pagi baru mau beres-beres. Dibantu warga,” katanya.

Sementara itu, petugas keamanan lingkungan setempat, Budi mengatakan bahwa kejadian gempa kali ini merupakan yang terkuat yang pernah ia rasakan di wilayah tersebut.

“Kejadian ini kali pertamanya. Semoga tidak ada lagi yang terdampak,” ujar Budi singkat.

Korban lain, Agus Susanto (55), warga RT 02/RW 03 Lingkungan Gantung Wetan, Kelurahan Pacitan, juga mengalami kerusakan parah pada bagian dapur rumahnya. 

Bangunan dapur miliknya roboh hingga rata dengan tanah.

“Dapur rumahnya rata dengan tanah. Dua kompor juga tertimpa bangunan. Hampir seluruh perabot juga terkena puing-puing genteng dan kayu,” katanya.

Agus menceritakan, saat gempa terjadi, ia baru saja pulang ronda malam dan hendak membuat kopi.

“Baru pulang ronda, masuk ke rumah bikin kopi, begitu gempa langsung lari, dan langsung brek gitu,” tuturnya.

Beruntung, ia berhasil menyelamatkan diri sebelum bangunan dapur ambruk.

“Alhamdulillah tidak sampai menimpa saya. Saya sendirian,” ujarnya.

Meski selamat, hampir seluruh perabot dapur miliknya hancur.

“Perabot dapur semuanya. Hancur semua. Kompor dua. Total kerugian tidak tahu. Saya masih trauma,” ucap Agus.

Untuk sementara, Agus memilih tetap tinggal di rumahnya meski diliputi rasa waswas.

“Nggak ngungsi, di sini aja dulu. Tapi tetap waspada. Mau gimana lagi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa rangka atap dapur baru saja diperbarui, namun kondisi tembok memang sudah tua.

“Dapur ini kayu reng atapnya belum lama diganti. Temboknya memang lama. Menempati rumah ini 10 tahun,” jelasnya.

Di lokasi lain, dua warga setempat, Wawan dan Bagus, mengaku sempat membangunkan warga dengan cara menabuh kentongan saat gempa terjadi.

“Kami sempat menabuh kentongan. Dengar suara brok keras, tapi nggak tahu dari mana,” ujar Wawan.

Suara runtuhan bangunan terdengar dari berbagai arah, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Dalam proses penelusuran lokasi terdampak, TIMES Indonesia dibantu oleh Komandan Rayon Militer (Danramil) 0801/01 Pacitan, Kapten Inf Dadut Setiawan.

Saat gempa terjadi, Kapten Dadut berada di kediamannya. Setelah menerima laporan dari warga, ia segera bergerak menuju kantor Koramil dan turun langsung ke lapangan.

Saat itu dia sedang berada di kediamannya. Setelah menerima telepon dari wartawan, baru ia bergegas ke koramil hingga membantu proses liputan kami di lapangan. 

“Begitu dapat laporan, langsung bergerak ke lokasi untuk membantu pemantauan,” ujarnya singkat.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, gempa ini menyebabkan kerusakan material cukup besar dan meninggalkan trauma bagi warga Pacitan. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Bambang H Irwanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Pacitan just now

Welcome to TIMES Pacitan

TIMES Pacitan is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.