TIMES PACITAN, PACITAN – HUT ke-57 OSIS SMKN 1 Pacitan, Kamis (5/2/2026), digelar berbeda dari sekolah lain. Seluruh rangkaian acara berlangsung penuh menggunakan bahasa Jawa, mulai pembukaan hingga penutupan, sebagai bentuk komitmen pelestarian budaya lokal di lingkungan pendidikan.
Mengusung tema “Seni lan Teknologi Ambangun Nagari”, peringatan HUT OSIS tahun ini memadukan tradisi dan sentuhan modern.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab tumpeng robyong yang diiringi alunan gendhing Kebo Giro. Prosesi tersebut menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan OSIS hingga usia ke-57 tahun sekaligus wujud pelestarian tradisi Jawa.
Penggunaan bahasa Jawa diterapkan dalam setiap prosesi, termasuk sambutan resmi, penampilan seni, hingga doa penutup.
Tak hanya itu, seluruh siswa, guru, tenaga kependidikan yang hadir juga mengenakan pakaian adat khas Jawa.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Pacitan, Dr. Sasmito Pribadi, mengapresiasi inovasi tersebut. Dalam sambutannya yang disampaikan menggunakan bahasa Jawa krama, ia menekankan pentingnya menjaga bahasa daerah sebagai warisan leluhur.
“Basa Jawa punika warisan luhur para leluhur kita, kedah kita uri-uri lan lestantunaken, langkung-lebih wonten ing lingkungan pendhidhikan,” ujarnya.
Menurut Sasmito, penggunaan bahasa Jawa dalam kegiatan resmi sekolah merupakan langkah strategis dalam menanamkan karakter, etika, dan kecintaan siswa terhadap budaya daerah sejak dini.

“Ini bukan sekadar perayaan ulang tahun OSIS, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter dan pelestarian budaya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Kepala SMKN 1 Pacitan, Joko Supriyadi, mengatakan peringatan HUT OSIS ke-57 sengaja dikemas berbeda agar menjadi media pembelajaran kontekstual bagi siswa.
“OSIS tidak hanya menjadi organisasi kegiatan, tetapi juga wadah pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap budaya sendiri. Modernitas dan budaya bisa berjalan beriringan,” katanya.
Selain kirab budaya, acara juga diisi dengan penampilan seni tradisional yang dikolaborasikan dengan teknologi modern hasil karya siswa. Perpaduan tersebut mencerminkan semangat generasi muda Pacitan dalam berinovasi tanpa meninggalkan identitas lokal.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan doa berbahasa Jawa dan pemotongan tumpeng. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |