https://pacitan.times.co.id/
Berita

Kios Sepi Bikin Setoran Mandek, Tunggakan Pasar Pacitan Jebol Rp350 Juta

Kamis, 05 Februari 2026 - 10:04
Kios Sepi Bikin Setoran Mandek, Tunggakan Pasar Pacitan Jebol Rp350 Juta Los pakaian di Pasar Arjowinangun, Pacitan, tampak sepi pembeli. Kondisi serupa terjadi di sejumlah pasar lain. Minimnya transaksi membuat banyak pedagang kesulitan menyetor sewa kios kepada Disdagnaker. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES PACITAN, PACITAN – Tunggakan sewa kios pasar tradisional di Pacitan kian menggunung. Hingga awal Februari 2026, nilainya sudah menembus Rp350 juta. Dampaknya, capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) ikut tersendat.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disdagnaker Pacitan Bambang Surono menyebut, tunggakan terbesar berasal dari kios, los, dan bidang.

“Yang bikin PAD tidak tembus target itu dari sektor ini,” katanya, Kamis (5/2/2026).

Meski banyak pedagang belum mampu melunasi, pihaknya tetap menerima setoran sekecil apa pun. Mulai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu tetap dicatat sebagai pembayaran.

“Yang penting ada kemauan bayar. Ada juga yang nyicil,” ujarnya.

Petugas pasar pun rutin turun lapangan. Hampir setiap hari melakukan penagihan. Minimal, seminggu sekali keliling pasar.

Bambang-Surono.jpgBambang Surono saat menjelaskan, tunggakan sewa kios, los, dan bidang masih mendominasi di pasar-pasar Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

“Berapa pun tetap kami terima,” tegasnya.

Bambang mengungkapkan, mayoritas penunggak berasal dari pedagang pakaian, kain, sepatu, dan tas. Mereka paling terdampak sepinya pembeli.

“Sekarang orang lebih banyak belanja sembako. Kalau fashion kalah sama online,” jelasnya.

Menurutnya, penjualan daring menawarkan model lebih baru dan harga lebih murah. Sementara pedagang pasar masih mengandalkan cara lama.

“Masih manual. Banyak yang belum melek digital,” imbuhnya.

Faktor usia juga berpengaruh. Rata-rata pedagang kain berusia di atas 40 tahun dan kesulitan beradaptasi dengan teknologi.

Secara keseluruhan, tunggakan sewa kios di seluruh pasar hampir menyentuh Rp400 juta. Padahal, dana tersebut masuk ke kas daerah.

Untuk menertibkan, Disdagnaker tetap menempuh jalur administratif. Mulai surat peringatan, teguran, hingga surat tagihan.

“Bulan Februari ini mulai kami kirim surat tagihan,” katanya.

Meski begitu, pihaknya tidak gusar, namun pendekatan persuasif tetap diutamakan.

“Kami tetap humanis. Karena pedagang menggantungkan hidupnya di pasar,” pungkas Bambang. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Pacitan just now

Welcome to TIMES Pacitan

TIMES Pacitan is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.