TIMES PACITAN, PACITAN – STKIP PGRI Pacitan terus memantapkan langkah mencetak lulusan multidimensi yang adaptif dan siap bersaing di dunia kerja. Salah satunya melalui program magang nonkependidikan yang melibatkan puluhan mitra dari berbagai sektor.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam rapat koordinasi bersama mitra magang yang digelar di Aula Kampus Lantai 2 STKIP PGRI Pacitan, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini diikuti perwakilan instansi pemerintah, swasta, hingga media massa.
Pada semester genap tahun akademik 2025/2026 ini, sebanyak 400 mahasiswa diterjunkan mengikuti program magang. Mereka terbagi dalam 63 kelompok dan ditempatkan di berbagai lembaga mitra sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Ketua STKIP PGRI Pacitan Bakti Sutopo menegaskan, program magang nonkependidikan menjadi instrumen penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di Pacitan.
“Ini penting bagi kami. Sinergitas ini sebagai aktualisasi. Dalam membangun SDM mahasiswa tidak bisa kami lakukan secara individual, oleh karena itu butuh semua pihak,” ujarnya.
Menurut Bakti, perguruan tinggi tidak bisa lagi berjalan sendiri dalam menyiapkan lulusan. Kolaborasi dengan dunia kerja menjadi kunci agar mahasiswa memahami realitas lapangan sejak dini.
Ia juga mengaitkan program tersebut dengan agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
“Kami ingin ikut aktif menyiapkan generasi emas 2045 sebagaimana Asta Cita Presiden,” tegasnya.
Bakti menjelaskan, meskipun mayoritas lulusan STKIP PGRI Pacitan diproyeksikan menjadi tenaga pendidik, mahasiswa tetap perlu dibekali keterampilan tambahan.
“Profil utama kami adalah guru. Namun perlu dibekali keterampilan lain sesuai prodi masing-masing,” katanya.
Karena itu, magang menjadi nilai tambah yang memperkaya kompetensi mahasiswa.
“Magang ini sebagai tambahan nilai plus mahasiswa agar memiliki profil lulusan yang multi dimensional. Maka kami titipkan mahasiswa kepada para mitra,” imbuhnya.
Ia menambahkan, magang kini menjadi bagian integral dari Kurikulum Merdeka.
“Kegiatan magang ini sudah menjadi dogma kurikulum merdeka. Maka kami benar-benar berharap kepada dosen pendamping lapangan memberikan arahan dan bimbingan di tempat para mitra,” tandasnya.
Sinergi kampus dan mitra diharapkan membentuk ekosistem pendidikan yang responsif terhadap perubahan zaman.
“Kami ingin lulusan STKIP PGRI Pacitan siap mengajar, siap bekerja, dan siap beradaptasi,” pungkas Bakti.
Berbasis Regulasi Nasional
Sementara itu, Wakil Ketua I STKIP PGRI Pacitan Dr. Hasan Halawi menyampaikan, pelaksanaan magang memiliki dasar hukum yang kuat. Program ini mengacu pada sejumlah regulasi nasional di bidang pendidikan tinggi.
Di antaranya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, serta Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen.
“Dengan dasar hukum tersebut, kegiatan magang memiliki legitimasi akademik yang jelas,” jelasnya.
Hasan juga memaparkan implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di lingkungan STKIP PGRI Pacitan. Program ini mencakup kegiatan belajar di dalam maupun di luar kampus.
Untuk program wajib terprogram, mahasiswa mengikuti magang 2 SKS, magang kependidikan 4 SKS, serta KKN 4 SKS. Selain itu, terdapat pula program tidak terprogram yang bisa diinisiasi kementerian maupun kampus.
Asah Hard Skills dan Soft Skills
Dalam kurikulum, mata kuliah magang dirancang sebagai wahana pembelajaran berbasis praktik. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mengembangkan karakter profesional.

Hard skills yang diasah meliputi kemampuan teknis, analisis, dan pemecahan masalah. Sementara soft skills mencakup komunikasi, etika profesi, kerja sama tim, hingga berpikir kritis.
Selama magang, mahasiswa didampingi dosen pembimbing lapangan dan mentor dari instansi mitra.
“Mereka belajar bekerja sekaligus belajar bersikap profesional,” terang Hasan.
Mata kuliah magang tercatat dengan kode MKP0249 dan berbobot 2 SKS.
Jadwal dan Tahapan
Pelaksanaan magang semester genap 2025/2026 disusun secara sistematis. Pembekalan dilaksanakan pada 5 Februari, disusul pemberangkatan mahasiswa pada 6 Februari.
Kegiatan magang berlangsung mulai 9 Februari hingga 6 Maret 2026. Tahap pelaporan dan penilaian digelar pada 10–11 Maret, sementara pengumuman kelulusan dijadwalkan 16 Maret 2026.
Pihak kampus berharap jadwal yang terstruktur ini membuat proses magang berjalan optimal.
Lokasi Disesuaikan Prodi
STKIP PGRI Pacitan juga memetakan lokasi magang sesuai program studi mahasiswa.
Mahasiswa Pendidikan Sejarah ditempatkan di lembaga pengelola wisata sejarah, museum, dan arsip. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diarahkan ke media massa, perpustakaan, dan humas.
Mahasiswa Pendidikan Matematika difokuskan pada penerapan statistika dan ekonomi. Pendidikan Bahasa Inggris diarahkan ke media berbahasa Inggris dan penerjemahan.
Mahasiswa Pendidikan Jasmani ditempatkan di lembaga pembinaan olahraga. Pendidikan Informatika diarahkan ke pengelolaan data dan pengembangan perangkat lunak.
Sementara mahasiswa PGSD menjalani praktik di bidang pendidikan inklusi dan administrasi sekolah.
Melalui program magang nonkependidikan ini, STKIP PGRI Pacitan menargetkan lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul di ruang kelas, tetapi juga tangguh di dunia kerja. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |