TIMES PACITAN, PACITAN – Gempa yang terjadi di Pacitan pada malam hari di bulan Sya’ban disebut dalam Kitab Mujarrabat sebagai pertanda melimpahnya hasil pangan, seperti beras dan padi, sehingga kebutuhan sandang dan pangan masyarakat menjadi lebih terjangkau.
Dalam kitab tersebut, yang ditulis dalam bahasa Jawa beraksara pegon, dijelaskan bahwa gempa di bulan Sya’ban memiliki makna tersendiri.
Jika terjadi pada siang hari, disebut sebagai isyarat akan banyak musibah atau wabah.
Sementara jika terjadi pada malam hari, diyakini sebagai tanda datangnya rezeki dan kemudahan ekonomi, khususnya di sektor pangan.
Meski demikian, penafsiran tersebut merupakan bagian dari tradisi literatur klasik yang diwariskan para ulama terdahulu. Kebenarannya tetap dikembalikan kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam.
Semoga kita dan keluarga senantiasa diberi keselamatan, kesehatan, serta kebahagiaan oleh Allah SWT. Aamiin.
Seperti diberitakan, gempa bumi bermagnitudo 6,4 mengguncang wilayah tenggara Pacitan, Jawa Timur, Jumat (6/2/2026) dini hari. Gempa berkekuatan magnitudo 6,4 itu berada pada kedalaman 10 kilometer, dengan koordinat 8,99 Lintang Selatan dan 111,18 Bujur Timur.BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |