https://pacitan.times.co.id/
Berita

Kesaksian Sumarno Sebelum Teras Rumah Ambruk Akibat Gempa M 6,4 di Pacitan

Jumat, 06 Februari 2026 - 06:40
Kesaksian Sumarno Sebelum Teras Rumah Ambruk Akibat Gempa M 6,4 di Pacitan Sumarno, 64 tahun, warga RT 03/RW 03 Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, nyaris menjadi korban gempa bumi bermagnitudo 6,4. (FOTO: Yusuf/TIMES Indonesia)

TIMES PACITAN – Sumarno, 64 tahun, warga RT 03/RW 03 Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, nyaris menjadi korban gempa bumi bermagnitudo 6,4 yang mengguncang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Jumat, 6 Februari 2026, dini hari. Saat gempa terjadi, ia bersama keluarga tengah terlelap tidur di dalam rumah.

“Tadi langsung bres begitu, belum sempat keluar rumah, sudah didahului teras ini ambruk. Saya sudah tidur. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Beruntung tidak sampai keluar. Anak saya sempat mau buka pintu. Ya jelas panik,” ujar Sumarno saat ditemui di lokasi kejadian.

Bagian teras rumah Sumarno yang ambruk sebelumnya difungsikan sebagai tempat parkir angkutan. Namun usaha tersebut telah lama berhenti karena sepinya penumpang.

“Ini teras. Dulunya buat parkir angkutan. Karena sepi andongan akhirnya bangkrut dan tutup. Saya jual semua,” katanya.

Akibat gempa, struktur bangunan rumah Sumarno mengalami kerusakan cukup parah. Tiang penyangga atap dari baja ringan roboh, disusul runtuhnya kayu dan genteng.

“Semua balok cor tiang penyangga atap teras baja ringan ambruk. Kayu dan genteng juga ambruk,” ujarnya.

Ia memperkirakan usia bangunan teras tersebut sekitar 10 tahun, sementara bangunan utama rumahnya lebih lama. Sumarno bersyukur gempa tidak berlangsung lama.

“Sekitar 10 tahunan usianya. Kalau rumah lebih lama lagi. Kalau lama gempanya, pasti rumah belakang ketarik. Seumpama lebih besar lagi dengan durasi lama, pasti rata dengan tanah,” kata dia.

Di bagian dalam rumah, sejumlah tembok juga mengalami retakan. Kerugian material ditaksir mencapai lebih dari Rp20 juta.

“Kisaran kerugian ditaksir Rp20 juta lebih. Tembok dalam rumah juga ada yang retak,” imbuhnya.

Saat ini, Sumarno tinggal bersama istri dan anaknya. Meski selamat, trauma masih dirasakan keluarganya.

“Saya tinggal bersama anak dan istri. Sekarang masih trauma. Awalnya hanya kaget. Suaranya brok. Keadaan saya di dalam,” ujarnya.

Ia berencana membersihkan puing-puing bangunan pada pagi hari dengan bantuan warga sekitar. “Besok pagi baru mau beres-beres. Dibantu warga,” katanya.

Sementara itu, petugas keamanan lingkungan setempat, Budi, mengatakan gempa kali ini merupakan yang terkuat yang pernah ia rasakan di wilayah tersebut. “Kejadian ini kali pertamanya. Semoga tidak ada lagi yang terdampak,” ujarnya.

Korban lain, Agus Susanto, 55 tahun, warga RT 02/RW 03 Lingkungan Gantung Wetan, Kelurahan Pacitan, juga mengalami kerusakan parah. Bagian dapur rumahnya roboh hingga rata dengan tanah.

“Dapur rumahnya rata dengan tanah. Dua kompor juga tertimpa bangunan. Hampir seluruh perabot juga terkena puing-puing genteng dan kayu,” katanya.

Agus menuturkan, saat gempa terjadi ia baru pulang ronda malam dan hendak membuat kopi. “Baru pulang ronda, masuk rumah bikin kopi, begitu gempa langsung lari, dan langsung brek begitu,” ujarnya.

Ia berhasil menyelamatkan diri sesaat sebelum bangunan dapur ambruk. “Alhamdulillah tidak sampai menimpa saya. Saya sendirian,” katanya.
Meski selamat, hampir seluruh perabot dapurnya hancur.

“Perabot dapur semuanya hancur. Dua kompor. Total kerugian belum tahu. Saya masih trauma,” ucap Agus.

Untuk sementara, Agus memilih tetap tinggal di rumahnya meski diliputi rasa waswas. “Nggak ngungsi, di sini saja dulu. Tapi tetap waspada,” katanya.

Ia menjelaskan, rangka atap dapur baru saja diganti, namun kondisi tembok sudah berusia lama. “Kayu reng atap belum lama diganti. Temboknya memang lama. Saya menempati rumah ini 10 tahun,” ujarnya.

Di lokasi lain, dua warga setempat, Wawan dan Bagus, mengaku sempat membangunkan warga dengan menabuh kentongan saat gempa terjadi.

“Kami sempat menabuh kentongan. Dengar suara brok keras, tapi nggak tahu dari mana,” ujar Wawan.

Suara runtuhan bangunan terdengar dari berbagai arah, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Dalam penelusuran lokasi terdampak, TIMES Indonesia dibantu Komandan Rayon Militer (Danramil) 0801/01 Pacitan, Kapten Inf Dadut Setiawan. Saat gempa terjadi, Kapten Dadut berada di kediamannya. Setelah menerima laporan warga, ia segera menuju kantor Koramil dan turun langsung ke lapangan.

Meski tidak menelan korban jiwa, gempa bumi tersebut menimbulkan kerugian material serta dampak psikologis yang cukup besar bagi warga Pacitan. (*)

Pewarta : Rojihan
Editor : Bambang H Irwanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Pacitan just now

Welcome to TIMES Pacitan

TIMES Pacitan is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.