TIMES PACITAN, PACITAN – Memasuki awal 2026, harga kambing di Kabupaten Pacitan mengalami penurunan cukup tajam. Kondisi ini terpantau di sejumlah pasar hewan, salah satunya Pasar Hewan Punung. Sejak beberapa bulan terakhir, harga kambing belum menunjukkan tanda-tanda kenaikan signifikan, bahkan cenderung stagnan di level rendah.
Pantauan di Pasar Hewan Punung, Senin (5/1/2026), kambing Peranakan Etawa (PE) dijual dengan harga mulai Rp2 juta per ekor. Harga tersebut dinilai relatif murah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Harga sesuai ukuran. Yang kecil Rp2 juta dapat. Yang besar Rp2,5-3 juta per ekor,” ujar Sugito (61), pedagang kambing asal Kecamatan Punung, Pacitan.
Menurut Sugito, penurunan harga kambing sudah berlangsung sekitar empat bulan terakhir. Setiap pasaran Pahing, para pedagang di Pasar Hewan Punung kerap terpaksa menurunkan harga agar dagangan mereka tetap laku.
“Sejak empat bulan terakhir ini belum ada kenaikan berarti. Di pasar hewan setiap Pahing rata-rata pedagang banting harga,” katanya.
Ia mengungkapkan, meski harga jual ditekan, pedagang masih berupaya agar tetap mendapatkan keuntungan, meski tipis. Dalam kondisi saat ini, keuntungan yang diperoleh pedagang berkisar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per ekor.

“Daripada tidak laku sama sekali, ya dijual murah. Masih ada untung sekitar Rp250–300 ribu per ekor,” tambah Sugito.
Sugito menjelaskan, salah satu faktor utama turunnya harga kambing adalah melimpahnya pakan ternak.
Memasuki musim hujan, rumput dan hijauan pakan tersedia dalam jumlah banyak, sehingga biaya perawatan ternak relatif lebih murah. Kondisi ini berdampak langsung pada harga jual kambing di pasaran.
“Pakan melimpah. Apalagi musim hujan, semua kambing murah meriah,” terangnya.
Tidak hanya kambing PE, harga kambing jenis kacang dan kambing Jawa juga mengalami penurunan.
Di lokasi yang sama, kambing kacang ukuran kecil hingga sedang dijual mulai Rp400 ribu per ekor. Sementara kambing dengan kondisi lebih gemuk dan ukuran besar dibanderol hingga Rp900 ribu per ekor.
“Kalau kambing kacang dan Jawa, harganya masih cukup terjangkau. Kalau gemuk dan besar bisa Rp900 ribu per ekor,” jelas Sugito.
Pedagang lain, Aris Setyanto (42), membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, harga kambing di Pacitan saat ini cenderung stabil di level rendah.
Meski tidak mengalami penurunan drastis dalam beberapa pekan terakhir, harga juga belum menunjukkan tren kenaikan.
“Harga kambing relatif stabil, tapi ya stabilnya di harga murah,” ujarnya.
Aris menambahkan, persoalan utama yang dihadapi pedagang bukan hanya harga, tetapi juga daya beli masyarakat yang masih lemah.
Kondisi ekonomi membuat pembeli cenderung menunda transaksi, sehingga pasar terlihat sepi.
“Pembeli masih kurang. Daya beli masyarakat belum pulih,” katanya.
Akibatnya, tidak sedikit pedagang yang terpaksa membawa pulang kembali kambing dagangan mereka karena tidak laku terjual.
Situasi ini kerap terjadi, terutama ketika jumlah pembeli tidak sebanding dengan pasokan ternak yang masuk ke pasar.
“Bawa pulang lagi, mau gimana lagi. Pembeli sepi. Mau ikut jual murah juga rugi,” tandas Aris.
Kondisi anjloknya harga kambing ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang dan peternak di Pacitan.
Di satu sisi, biaya pakan yang murah saat musim hujan sedikit meringankan beban produksi. Namun di sisi lain, lemahnya permintaan pasar membuat margin keuntungan semakin menipis.
Terpisah, peternak asal Dusun Pakis, Supriyono (64), mengaku memilih menahan ternaknya dan enggan membawanya ke pasar lantaran harga kambing yang masih anjlok.
“Kalau harganya masih segitu, saya tidak mau jual. Lebih baik menunggu sampai harga kembali stabil,” ujarnya.
Sejumlah pedagang berharap, harga kambing dapat kembali naik seiring membaiknya daya beli masyarakat atau mendekati momentum tertentu seperti hajatan dan kebutuhan keagamaan. Hingga awal Januari 2026, para pedagang masih memilih bertahan sembari berharap kondisi pasar segera membaik. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Harga Kambing di Pacitan Anjlok Awal 2026, Pedagang Terpaksa Banting Harga
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Ronny Wicaksono |