Tiga Dusun di Donorojo Pacitan Belum Tersentuh PDAM, Warga Tampung Air Bantuan Pakai Terpal
Tiga wilayah yang mengalami kondisi memprihatinkan tersebut meliputi Dusun Kenteng, Ngamban, dan Jaten.
PACITAN – Krisis air bersih akibat kemarau panjang kini benar-benar dirasakan warga di Desa Donorojo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.
Belum adanya infrastruktur perpipaan pengairan, baik dari Pamsimas, HIPPAM, hingga PDAM, memaksa warga di tiga dusun setempat bertahan hidup dengan cara mengandalkan penampungan air buatan dari terpal.
Tiga wilayah yang mengalami kondisi memprihatinkan tersebut meliputi Dusun Kenteng, Ngamban, dan Jaten.
Ketiadaan fasilitas air bersih permanen membuat setiap dusun harus bergotong royong membuat tiga hingga empat bak penampungan air mandiri berbekal terpal plastik di titik-titik strategis.
Nantinya, setiap satu terpal digunakan untuk menampung dropping air guna mencukupi kebutuhan satu Rukun Tetangga (RT). Warga kemudian mengambil air tersebut menggunakan ember maupun jerigen.
Kepala Dusun (Kasun) Ngamban, Riski Agung Setyawan, menuturkan bahwa warganya sama sekali belum pernah menikmati akses air bersih perpipaan dari pemerintah.
“Jaringan air termasuk PDAM belum ada,” ungkap Riski saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026).
Menurut Riski, khusus di Dusun Ngamban, terdapat 3 RT dengan total kurang lebih 80 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak krisis air.
Selama dua musim kemarau terakhir, warga murni menggantungkan hidup pada bantuan air bersih dari berbagai pihak yang ditampung menggunakan terpal swadaya dan toren seadanya.
“Upaya (solusi) permanen belum ada. Ini (kemarau) paling parah daripada tahun sebelumnya. Harapannya ada penanganan permanen dari pemerintah,” harap Riski.
48 Ribu Jiwa Terdampak Kekeringan di Pacitan
Penderitaan warga Donorojo ini merupakan potret kecil dari luasnya skala bencana kekeringan di Kabupaten Pacitan pada kemarau 2026.
Merujuk pada dokumen rekapitulasi resmi Data Permintaan Air BPBD Pacitan, tercatat sebanyak 16.676 KK atau mencapai 48.526 jiwa berstatus terdampak dan telah mengajukan permohonan dropping air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Radite Suryo Anggoro, menegaskan bahwa tingginya permohonan yang masuk dari pemerintah desa menjadi acuan utama BPBD di lapangan.
Pihaknya tengah memeras keringat untuk memastikan armada tangki bergerak menyisir titik-titik kritis harian, termasuk di wilayah Kecamatan Punung (Desa Kebonsari).
"Fokus kami saat ini adalah mempercepat ritme distribusi agar wilayah dengan dampak kekeringan terparah segera tertangani dan warga tidak sampai kehausan," urai Radite.
Menghadapi belasan ribu KK yang terdampak, BPBD Pacitan terus memperkuat koordinasi lintas sektoral guna memaksimalkan armada distribusi.
"Kondisinya memang darurat. Armada tangki air kami upayakan bergerak setiap hari tanpa henti. Keselamatan dan pemenuhan hak dasar warga atas air bersih adalah prioritas mutlak pemerintah daerah saat ini," tegasnya.
Kondisi kekeringan ekstrem yang berulang ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Penanganan reaktif melalui dropping air dinilai belum menyentuh akar permasalahan.
Diperlukan segera rumusan mitigasi jangka panjang, terutama pemerataan pembangunan infrastruktur perpipaan air dan pelestarian area resapan di wilayah rawan bencana tahunan tersebut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.