Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan Ajak Pesantren Melek Literasi dan Teknologi AI
Saat ini, pondok pesantren tidak hanya dianggap sekadar tempat belajar agama, tetapi juga mampu merespons kemajuan zaman dan teknologi.
PACITAN – Semangat literasi pesantren terus didorong oleh Samsul Rozikin, mahasantri dari Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan.
Ia aktif menulis buku untuk membuktikan bahwa pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga mampu merespons kemajuan zaman dan teknologi.
Samsul memperkenalkan karya terbarunya yang berjudul 'Segitiga Emas: Kolaborasi Kiai, Santri dan Wali Santri'.
Buku yang disusun selama empat bulan dan dicetak 80 eksemplar ini membedah kunci sukses pendidikan di pesantren.
Menurut Samsul, kesuksesan seorang santri tidak hanya dinilai dari seberapa pintar ia belajar.
"Keberhasilan itu juga datang dari kerja sama yang baik antara kiai sebagai pembimbing, santri yang tekun, dan orang tua yang terus mendukung. Inilah yang saya sebut sebagai model kolaborasi 'Segitiga Emas'," jelas Samsul, Selasa (15/9/2026).
Selain buku tersebut, Samsul saat ini juga tengah merampungkan buku baru yang segera terbit berjudul 'Santri dan Artificial Intelligence: Menjaga Adab, Mengembangkan Peradaban'.
Lewat naskah ini, ia ingin menjawab tantangan kecerdasan buatan (AI) di era modern.
Samsul mengajak para santri agar tidak gagap teknologi dan bisa memanfaatkan AI untuk membantu proses belajar, meneliti, hingga berdakwah secara digital, namun dengan tetap menjaga adab dan akhlak Islam.
"AI atau kecerdasan buatan itu bukan sekadar teknologi baru, tapi bagian dari perubahan zaman. Kita harus menghadapinya dengan ilmu dan tanggung jawab moral," tambahnya.
Terinspirasi Ulama Besar Nusantara
Ketekunan Samsul dalam menulis sangat terinspirasi dari tokoh-tokoh ulama besar, seperti Pahlawan Nasional KH. Ahmad Rifa'i dan ulama dunia asal Tremas Pacitan, Syekh Mahfudz At-Tarmasi.
Dari mereka, Samsul belajar bahwa umur sebuah tulisan jauh lebih panjang daripada kekuasaan atau jabatan.
Ia memandang kegiatan menulis bukan hanya milik para ahli atau dosen, melainkan tanggung jawab semua orang untuk berbagi ilmu.
Menulis, baginya, adalah cara terbaik untuk mengabadikan ilmu agar terus bermanfaat bagi generasi mendatang.
Samsul pun berpesan kepada generasi muda untuk tidak takut memulai.
"Mulailah menulis hari ini. Jangan menunggu jadi profesor atau menunggu waktu luang. Tulis saja pengalaman dan ilmu yang kita punya. Popularitas mungkin akan hilang, tapi tulisan yang bermanfaat akan terus dibaca oleh generasi selanjutnya," pesan Samsul. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.