Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan Ajak Pesantren Melek Literasi dan Teknologi AI
Samsul Rozikin, mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan yang bukunya kini dikoleksi Perpusda Kabupaten Kendal, Jateng. (Foto: Dok. Pribadi for TIMES Indonesia)

Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan Ajak Pesantren Melek Literasi dan Teknologi AI

Saat ini, pondok pesantren tidak hanya dianggap sekadar tempat belajar agama, tetapi juga mampu merespons kemajuan zaman dan teknologi.

TIMES Pacitan,Selasa 15 September 2026, 08:01 WIB
170
Y
Yusuf Arifai

PACITANSemangat literasi pesantren terus didorong oleh Samsul Rozikin, mahasantri dari Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan

Ia aktif menulis buku untuk membuktikan bahwa pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga mampu merespons kemajuan zaman dan teknologi.

Samsul memperkenalkan karya terbarunya yang berjudul 'Segitiga Emas: Kolaborasi Kiai, Santri dan Wali Santri'

Buku yang disusun selama empat bulan dan dicetak 80 eksemplar ini membedah kunci sukses pendidikan di pesantren.

Menurut Samsul, kesuksesan seorang santri tidak hanya dinilai dari seberapa pintar ia belajar.

"Keberhasilan itu juga datang dari kerja sama yang baik antara kiai sebagai pembimbing, santri yang tekun, dan orang tua yang terus mendukung. Inilah yang saya sebut sebagai model kolaborasi 'Segitiga Emas'," jelas Samsul, Selasa (15/9/2026).

Selain buku tersebut, Samsul saat ini juga tengah merampungkan buku baru yang segera terbit berjudul 'Santri dan Artificial Intelligence: Menjaga Adab, Mengembangkan Peradaban'.

Lewat naskah ini, ia ingin menjawab tantangan kecerdasan buatan (AI) di era modern. 

Samsul mengajak para santri agar tidak gagap teknologi dan bisa memanfaatkan AI untuk membantu proses belajar, meneliti, hingga berdakwah secara digital, namun dengan tetap menjaga adab dan akhlak Islam.

"AI atau kecerdasan buatan itu bukan sekadar teknologi baru, tapi bagian dari perubahan zaman. Kita harus menghadapinya dengan ilmu dan tanggung jawab moral," tambahnya.

Terinspirasi Ulama Besar Nusantara

Ketekunan Samsul dalam menulis sangat terinspirasi dari tokoh-tokoh ulama besar, seperti Pahlawan Nasional KH. Ahmad Rifa'i dan ulama dunia asal Tremas Pacitan, Syekh Mahfudz At-Tarmasi. 

Dari mereka, Samsul belajar bahwa umur sebuah tulisan jauh lebih panjang daripada kekuasaan atau jabatan.

Ia memandang kegiatan menulis bukan hanya milik para ahli atau dosen, melainkan tanggung jawab semua orang untuk berbagi ilmu. 

Menulis, baginya, adalah cara terbaik untuk mengabadikan ilmu agar terus bermanfaat bagi generasi mendatang.

Samsul pun berpesan kepada generasi muda untuk tidak takut memulai.

"Mulailah menulis hari ini. Jangan menunggu jadi profesor atau menunggu waktu luang. Tulis saja pengalaman dan ilmu yang kita punya. Popularitas mungkin akan hilang, tapi tulisan yang bermanfaat akan terus dibaca oleh generasi selanjutnya," pesan Samsul. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.