TIMES PACITAN, PACITAN – Program integrasi Madrasah Diniyah (Madin) mulai diterapkan di SMPN 3 Ngadirojo Pacitan untuk seluruh siswa kelas VII hingga IX. Madin tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari ritme pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Kepala SMPN 3 Ngadirojo, Teguh Basuki, mengatakan integrasi ini dirancang agar nilai-nilai keislaman tidak berhenti pada tataran teori. Menurutnya, sekolah ingin membiasakan siswa menerapkan ajaran agama dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
“Nilai keislaman harus hidup di sekolah, bukan hanya dipelajari. Karena itu Madrasah Diniyah kami satukan dengan proses pembelajaran, agar terbentuk kebiasaan yang baik pada siswa,” ujar Teguh, Rabu (21/1/2026).
Dalam pelaksanaannya, integrasi Madin mencakup pembiasaan ibadah berjamaah, penguatan baca tulis Al-Qur’an, serta penanaman akhlakul karimah. Pendekatan ini diarahkan agar siswa mampu memahami dan mengamalkan nilai agama secara kontekstual, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Teguh menegaskan, pendidikan akademik perlu berjalan seimbang dengan pembentukan karakter. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus diiringi dengan kecerdasan spiritual.
“Kami ingin siswa berprestasi, tapi juga punya akhlak. Berilmu, beriman, dan santun dalam bersikap,” katanya.
Program ini sekaligus sejalan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada dimensi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dukungan guru serta respons positif siswa menjadi modal awal agar integrasi Madrasah Diniyah dapat berjalan berkelanjutan.
Melalui langkah ini, SMPN 3 Ngadirojo Pacitan menegaskan komitmennya membangun lingkungan sekolah yang religius dan berkarakter, sebagai fondasi pembentukan generasi masa depan yang berintegritas dan bertanggung jawab. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |