TIMES PACITAN, PACITAN – SMPN 4 Tegalombo, Kabupaten Pacitan mewajibkan seluruh siswa mengikuti program Baca Tulis Al-Quran (BTQ) mingguan.
Program ini digulirkan untuk mengatasi masih banyaknya siswa yang belum lancar membaca Al-Quran sesuai kaidah tajwid.
Kegiatan BTQ dilaksanakan rutin satu kali dalam sepekan dan menjadi bagian dari ekstrakurikuler wajib sekolah.
Program ini diprakarsai guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Imam Makmurodhi, setelah sekolah menemukan fakta bahwa kemampuan literasi Al-Quran siswa masih sangat beragam, bahkan sebagian belum mengenal huruf hijaiyah dengan baik.
“Tujuan utamanya sederhana, membiasakan anak-anak mengaji. Kami ingin bacaan mereka lancar dan benar, sehingga ketika lulus nanti, mereka sudah punya bekal dasar saat kembali ke masyarakat,” ujar Imam Makmurodhi.
Untuk menyesuaikan kemampuan siswa, pengelola menerapkan sistem pengelompokan.

Siswa yang masih tahap awal dibimbing menggunakan metode Iqro, sementara siswa yang sudah memiliki dasar diarahkan langsung membaca Al-Quran.
Pola ini dinilai lebih efektif karena guru dapat fokus sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
Salah satu pengajar BTQ, Zainal Arifin, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tambahan jam sekolah. Menurutnya, pemahaman terhadap Al-Quran adalah fondasi utama dalam menjalani kehidupan.
“Al-Quran itu pedoman hidup. Dari lahir sampai meninggal, semua ada di dalamnya. Kalau tidak dipelajari, manusia bisa kehilangan arah,” kata Zainal saat mendampingi siswa.
Pandangan serupa disampaikan Kepala SMPN 4 Tegalombo Satu Atap, Nur Samsul Huda. Ia menyebut BTQ sebagai bagian penting dari pembentukan karakter siswa, bukan hanya soal nilai akademik.
“Kami mendukung penuh program ini. Prestasi akademik penting, tapi literasi Al-Quran dan bekal spiritual adalah fondasi yang akan menjaga anak-anak di masa depan,” tegasnya.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh siswa. Revan Wahyu Pratama, siswa kelas VIII, mengaku bacaan Al-Qurannya semakin lancar sejak mengikuti BTQ rutin.
Ia juga merasa terbantu karena guru tidak hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga menjelaskan arti dan tafsir singkat ayat.
“Kami jadi lebih paham, bukan cuma membaca. Guru juga menjelaskan artinya, jadi lebih masuk,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dwi Atma Zelianty. Menurutnya, memahami makna ayat membuat kegiatan mengaji terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak membosankan.
Melalui program BTQ ini, SMPN 4 Tegalombo berharap lulusannya tidak hanya mampu membaca Al-Quran dengan baik, tetapi juga memiliki pondasi moral yang kuat. Sekolah menargetkan siswa kelak bisa berperan aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan masing-masing.
Program BTQ SMPN 4 Tegalombo menjadi contoh peran sekolah dalam menjaga nilai-nilai religi di wilayah perdesaan Pacitan, sekaligus upaya nyata memberantas buta aksara Al-Quran sejak bangku SMP. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Ronny Wicaksono |