Sampah di Pacitan Kian Menggunung, TPA Dadapan Masih Dibanjiri 35 Ton per Hari
Pemulung memilah sampah plastik yang menggunung di TPA Dadapan, Pringkuku, Pacitan untuk dijual kembali. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Sampah di Pacitan Kian Menggunung, TPA Dadapan Masih Dibanjiri 35 Ton per Hari

TPA Dadapan Pacitan tiap hari menampung 30–35 ton sampah, didominasi limbah rumah tangga dan plastik. Pemilahan belum optimal, fasilitas TPS3R terbatas, dan kesadaran warga masih rendah.

TIMES Pacitan,Rabu 3 Juni 2026, 16:25 WIB
389
Y
Yusuf Arifai

PACITANPersoalan sampah di Pacitan belum bergerak jauh. Setiap hari, TPA Dadapan masih menerima 30 hingga 35 ton sampah. 

Angka itu relatif stagnan dalam beberapa tahun terakhir, meski fasilitas pengolahan seperti TPS3R mulai dibangun di sejumlah wilayah.

Di lapangan, masih ada problem seperti volume tinggi, pemilahan belum berjalan, armada terbatas, sementara sebagian besar sampah tetap berakhir di tempat pembuangan akhir.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan, timbunan sampah yang masuk ke TPA Dadapan didominasi limbah rumah tangga dan plastik. 

Pada titik tertentu, volumenya mencapai sekitar 28–30 ton per hari.

Kondisi tersebut membuat beban TPA terus meningkat. Sejak 2023, pemerintah daerah mengakui sebagian area penampungan di Dadapan mulai mengalami tekanan akibat tingginya produksi sampah harian. 

Kapasitas lahan perlahan tergerus, sementara aliran sampah tidak pernah benar-benar berhenti.

Sekretaris Daerah Pacitan, Heru Wiwoho, menyebut persoalan sampah kini menjadi tantangan serius.

Menurutnya, peningkatan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, hingga pertumbuhan aktivitas ekonomi ikut memperbesar produksi limbah.

“Pengelolaan sampah menjadi tantangan kita bersama dan perlu perhatian serius dari seluruh pihak. Jadi bukan hanya DLH, tapi sudah menjadi permasalahan kita bersama,” kata Heru, Rabu (3/6/2026).

Heru menilai tren kenaikan sampah sulit dihindari. Di Pacitan, sektor pariwisata yang terus bergerak juga ikut meninggalkan residu baru. Belum lagi munculnya limbah dari aktivitas program makan bergizi.

article

“Kita tahu jumlah penduduk terus bertambah, pola konsumsi terus bertambah, apalagi sekarang ada BGN, limbah SPPG itu ya lumayan,” ujarnya.

“Kalau di kita pariwisata. Pasti akan banyak meninggalkan sampah dan volume yang dihasilkan setiap hari juga bertambah,” imbuhnya.

Masalah lain ada di tingkat rumah tangga. Kepala DLH Pacitan, Cicik Roudlotul Janah, menyebut satu orang rata-rata menghasilkan 0,51 kilogram sampah per hari. 

Jika dikalikan jumlah penduduk Pacitan yang mendekati 600 ribu jiwa, produksi sampah harian menjadi besar.

“Silakan dihitung sendiri, kalau dengan jumlah penduduk yang 600 ribu kali sekian, kalau di rumah saja ada empat orang, berarti sudah dua kilogram setiap hari,” kata Cicik.

Menurutnya, fasilitas pengelolaan sampah memang mulai tersedia di beberapa wilayah perkotaan melalui TPS3R, PDU, dan bank sampah. Namun sistem tersebut belum berjalan optimal.

Akibatnya, sampah yang semestinya bisa dipilah sejak awal tetap bercampur dan berakhir di TPA.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, itu nanti akan menumpuk di alam. Mungkin di kota ada TPS3R, ada PDU bank sampah, tapi itu juga belum optimal,” ujarnya.

Di desa, persoalan bahkan lebih mendasar. Kesadaran pengelolaan sampah masih rendah. Sungai hingga lahan kosong kerap menjadi tempat pembuangan.

“Jangan anggap bahwa sungai dan pekarangan kosong itu keranjang sampah,” tegasnya.

Sebelumnya, Koordinator Lapangan TPA Dadapan, Sarpani, mengakui keberadaan TPS3R sedikit membantu menekan volume sampah. Namun penurunan belum signifikan karena mayoritas sampah rumah tangga masih mengalir ke lokasi yang sama.

“Sekarang agak berkurang karena ada TPS3R. Tapi masih banyak juga masyarakat yang buang ke sini,” katanya saat ditemui di TPA Dadapan.

Persoalan pemilahan juga belum selesai. Sebagian warga mulai memisahkan sampah organik dan anorganik. 

Namun saat pengangkutan dilakukan, sampah kerap kembali bercampur karena armada belum sepenuhnya mendukung sistem terpisah.

Akhirnya, sampah diproduksi lebih banyak, pengurangan dari sumber belum maksimal, dan TPA Dadapan tetap menjadi penampung segala masalah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.