Peternak di Pacitan Memburu Pakan Keting di Tengah Dampaak Kemarau Panjang
Menipisnya ketersediaan hijauan pakan ternak memaksa para petani dan peternak kini ramai-ramai beralih memanfaatkan pakan kering sebagai alternatif utama untuk menyambung hidup hewan ternaknya.
PACITAN – Musim kemarau panjang yang mendera wilayah Kabupaten Pacitan tak hanya memicu krisis air bersih, tetapi juga berimbas pada menipisnya ketersediaan hijauan pakan ternak.
Menyiasati kondisi tersebut, para petani dan peternak kini ramai-ramai beralih memanfaatkan pakan kering sebagai alternatif utama untuk menyambung hidup hewan ternaknya.
Kesulitan mencari pakan hijau segar ini salah satunya diungkapkan oleh Tarmiji (61), seorang peternak asal Kecamatan Donorojo.
Ia mengaku harus putar otak lantaran rumput dan dedaunan di sekitar desanya telah mengering akibat terik matahari.
"Saat kemarau panjang tiba, daun hijau sudah susah dicarinya. Terpaksa pakannya ganti pakai jerami atau damen," ungkap Tarmiji, Selasa (15/9/2026).
Menipisnya pasokan pakan segar membuat permintaan pakan alternatif melonjak tajam di pasaran.
Sunarti, seorang warga di Kecamatan Punung, menuturkan bahwa tumpukan jerami kering sisa panen padi yang sengaja ia simpan ludes terjual hanya dalam hitungan jam.
"Tidak sampai sehari sudah habis dibeli orang yang bawa mobil pikap," katanya.
Di tengah situasi serba sulit ini, dedaunan dari pohon keras yang masih bertahan hidup mendadak bernilai ekonomis.
Sunarti menyebutkan bahwa daun nangka kini menjadi buruan para peternak. Satu ikat daun nangka laku ia jual di kisaran harga Rp20.000 hingga Rp25.000.
"Meski laku, stok (daun nangka) di pohon juga sudah tidak banyak," imbuhnya.
Merespons tingginya kebutuhan pakan di tingkat peternak, sejumlah pedagang turut menawarkan solusi alternatif.
Safi'i, salah satu penjual pakan kering di Kecamatan Sudimoro, menyediakan limbah kulit kacang hijau yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak ruminansia seperti sapi maupun kambing.
“Harganya cukup terjangkau, Rp4 ribu per kilogramnya. Stok saat ini masih ada bagi peternak yang berminat dan mau ambil berapapun,” ujar Safi'i.
Beralihnya para peternak ke pakan kering dan dedaunan alternatif ini menjadi potret nyata upaya masyarakat pedesaan di Pacitan dalam mempertahankan roda ekonomi dan aset ternak mereka di tengah tantangan cuaca ekstrem tahun ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.