Meneladani Tradisi Lebaran Rasulullah SAW, Dari Baju Baru hingga Nonton Atraksi
Merujuk pada buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, tujuh amalan utama kerap dilakukan Rasulullah SAW dalam menyambut dan merayakan hari raya.
PACITAN – Perayaan Idul Fitri atau Lebaran menjadi ibadah yang memiliki akar sejarah kuat sejak tahun kedua Hijriyah (624 M).
Usai memenangi Perang Badar, Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar syiar kemenangan yang menggabungkan dimensi spiritual dengan kegembiraan sosial.
Merujuk pada buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, berikut adalah tujuh amalan utama Rasulullah SAW dalam menyambut dan merayakan hari raya:
1. Menghidupkan Takbir
Rasulullah SAW mengumandangkan takbir sejak malam terakhir Ramadan hingga pagi 1 Syawal.
Berdasarkan QS Al-Baqarah: 185, takbir ini dibagi menjadi dua jenis: muqayyad (setelah shalat) dan mursal (bebas dilakukan di mana saja seperti jalan, pasar, atau rumah). Kesunnahan ini berakhir saat imam memulai takbiratul ihram shalat Id.
2. Berhias dan Mengenakan Pakaian Terbaik
Lebaran adalah momentum untuk tampil rapi. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya membersihkan badan, memotong kuku, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik.
Meski warna putih diutamakan, mengenakan baju baru sangat dianjurkan sebagai simbol syiar kebahagiaan. Bagi perempuan, ditekankan untuk tetap memperhatikan batasan aurat.
3. Sarapan Sebelum Salat Id
Berbeda dengan Idul Adha, pada Idul Fitri umat Islam dilarang berpuasa. Rasulullah SAW biasa memakan kurma dalam jumlah ganjil (tiga, lima, atau tujuh butir) sebelum berangkat ke tempat salat.
"Pada waktu Idul Fitri Rasulullah SAW. tidak berangkat ke tempat salat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari)
4. Teknis Salat Id dan Rute Berbeda
Dalam pelaksanaannya, Rasulullah mengajak seluruh keluarga dan sahabat. Beliau sengaja memilih rute jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat salat.
Selain itu, pelaksanaan salat Idul Fitri biasanya sedikit agak siang (saat matahari setinggi tombak) untuk memberi waktu bagi umat yang hendak menunaikan zakat fitrah.
5. Menikmati Hiburan Publik
Islam tidak melarang kegembiraan di hari raya. Rasulullah SAW pernah menemani Aisyah RA menyaksikan pertunjukan atraksi tombak dan tameng.
Hal ini menunjukkan bahwa mendatangi tempat keramaian atau hiburan yang positif merupakan bagian dari merayakan kemenangan.
6. Tradisi Silaturahim
Saling mengunjungi rumah sahabat dan kerabat sudah menjadi tradisi sejak zaman Nabi.
Dalam momen ini, Rasulullah dan para sahabat saling mendoakan kebaikan satu sama lain, mirip dengan tradisi halalbihalal yang dilakukan masyarakat Indonesia saat ini.
7. Memberi Ucapan Selamat (Tahniah)
Mengucapkan selamat hari raya memiliki dasar dalil yang kuat sebagai bentuk syukur. Meski redaksinya beragam, seperti Taqabbala allâhu minnâ wa minkum atau "Mohon Maaf Lahir Batin", semuanya masuk dalam kategori kesunnahan tahniah.
Mengenai perbedaan pendapat ulama soal ucapan ini, Syekh Abdul Hamid al-Syarwani menegaskan dalam kitabnya:
ـ (خَاتِمَةٌ) قَالَ الْقَمُولِيُّ لَمْ أَرَ لِأَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِنَا كَلَامًا فِي التَّهْنِئَةِ بِالْعِيدِ وَالْأَعْوَامِ وَالْأَشْهُرِ كَمَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ لَكِنْ نَقَلَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ عَنْ الْحَافِظِ الْمَقْدِسِيَّ أَنَّهُ أَجَابَ عَنْ ذَلِكَ بِأَنَّ النَّاسَ لَمْ يَزَالُوا مُخْتَلِفِينَ فِيهِ وَاَلَّذِي أَرَاهُ مُبَاحٌ لَا سُنَّةَ فِيهِ وَلَا بِدْعَةَ
Meski sebagian menyebut mubah, Ibnu Hajar al-Haitami berargumen bahwa hal tersebut disyariatkan karena merupakan bagian dari ekspresi syukur atas nikmat Allah SWT. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
