Yuk Pahami, Begini Kriteria Mampu Berkurban Menurut Empat Mazhab
Kambing jantan adalah pilihan utama yang disunahkan untuk kurban karena mengikuti contoh Nabi SAW dan dianggap memiliki daging lebih banyak, meski betina tetap sah (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Yuk Pahami, Begini Kriteria Mampu Berkurban Menurut Empat Mazhab

Perbedaan itu menyangkut ukuran kecukupan harta hingga kebolehan berutang demi membeli hewan kurban.

TIMES Pacitan,Jumat 15 Mei 2026, 09:01 WIB
2K
Y
Yusuf Arifai

JAKARTAUlama empat mazhab memiliki penjelasan berbeda terkait batas kemampuan seseorang untuk malaksanakan kurban

Perbedaan itu menyangkut ukuran kecukupan harta hingga kebolehan berutang demi membeli hewan kurban.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, menjelaskan pandangan masing-masing mazhab tentang kriteria mampu berkurban.

Mazhab Hanafiyyah

Ulama Hanafiyyah menilai seseorang dianggap mampu jika memiliki kelapangan harta sebagaimana syarat zakat fitrah. Ukurannya ialah mempunyai harta senilai 200 dirham atau setara nisab zakat, di luar kebutuhan pokok.

والمقصود بالقدرة عند الحنفية، هو اليسار أي يسار الفطرة (١)، وهو أن يكون مالكًا مئتي درهم الذي هو نصاب الزكاة، أو متاعًا يساوي هذا المقدار زائدًا عن مسكنه ولباسه، أو حاجته وكفايته هو ومن تجب عليه نفقتهم.

Artinya, seseorang memiliki harta senilai nisab zakat di luar rumah, pakaian, kebutuhan pribadi, serta kebutuhan orang yang wajib dinafkahi.

Mazhab Malikiyyah

Mazhab Malikiyyah memandang orang mampu berkurban ialah mereka yang tidak membutuhkan uang pembelian hewan kurban untuk kebutuhan mendesak selama setahun.

والقادر عليها عند المالكية (٢): هو الذي لا يحتاج إلى ثمنها لأمر ضروري في عامه. ولو استطاع أن يستدين استدان.

Bahkan, menurut mazhab ini, seseorang diperbolehkan berutang untuk berkurban selama dinilai mampu membayarnya.

Mazhab Syafi’iyyah

Ulama Syafi’iyyah menjelaskan, kemampuan berkurban diukur dari adanya kelebihan harta setelah kebutuhan diri dan keluarga terpenuhi pada hari Idul Adha dan hari tasyrik.

والمستطيع عليها عند الشافعية (٣): هو من يملك ثمنها زائدًا عن حاجته وحاجة من يعوله يوم العيد وأيام التشريق، لأن ذلك وقتها، مثل زكاة الفطر، فإنهم اشترطوا فيها أن تكون فاضلة عن حاجته مَمونة يوم العيد وليلته فقط.

Artinya, seseorang dinilai mampu jika memiliki biaya membeli hewan kurban setelah kebutuhan pokok keluarga pada hari raya dan hari tasyrik tercukupi.

Mazhab Hanabilah

Sementara ulama Hanabilah menilai seseorang tetap bisa disebut mampu meski harus berutang, asalkan sanggup melunasi utang tersebut.

والقادر عليها عند الحنابلة (٤): هو الذي يمكنه الحصول على ثمنها ولو بالدين، إذا كان يقدر على وفاء دينه.

Pandangan itu menegaskan bahwa kemampuan berkurban tidak selalu harus berupa uang tunai yang tersedia saat itu, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan membayar di kemudian hari.

Keterangan tersebut dikutip dari kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, juz 4 halaman 2708. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.