Jam Berapa Sebenarnya Waktu Sahur Dimulai? Ini Penjelasan Fikihnya
Waktu sahur dimulai sejak tengah malam hingga fajar kedua; sebaiknya diakhirkan mendekati subuh. Sahur cukup dengan makanan sedikit atau segelas air, hukumnya sunnah penuh berkah.
PACITAN – Jam berapa sebenarnya waktu sahur dimulai? Mayoritas ulama fikih menjelaskan, waktu sahur dimulai sejak pertengahan malam hingga terbit fajar kedua (fajar shadiq). Karena itu, makan sebelum pertengahan malam belum dihitung sebagai sahur secara syar‘i dan tidak mendapatkan keutamaannya.
Penjelasan ini ditegaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, bahwa:
وَقْتُ السَّحُورِ: ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ وَقْتَ السَّحُورِ مَا بَيْنَ نِصْفِ اللَّيْل الأَخِيرِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ، وَقَالَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ: هُوَ مَا بَيْنَ السُّدُسِ الأَخِيرِ وَطُلُوعِ الْفَجْرِ. وَيُسَنُّ تَأْخِيرُ السَّحُورِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ مَا لَمْ يَخْشَ طُلُوعَ الْفَجْرِ الثَّانِي لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ﴾ وَالْمُرَادُ بِالْفَجْرِ فِي الآيَةِ الْفَجْرُ الثَّانِي
Artinya, jumhur ulama berpendapat waktu sahur berada antara pertengahan malam terakhir sampai terbitnya fajar. Sebagian ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah bahkan mempersempitnya, yakni sejak seperenam terakhir malam hingga terbit fajar. Dan yang dimaksud fajar dalam ayat Al-Baqarah 187 adalah fajar kedua.
Dengan kata lain, kalau seseorang makan di pukul sepuluh atau sebelas malam, itu sekadar makan malam tambahan, belum disebut sahur dalam pengertian syariat.
Lalu, bagaimana dengan bentuk sahur? Apakah harus makan berat?
Dalam Al-Majmu’ karya Imam Nawawi dijelaskan:
وَقْتُ السَّحُورِ بَيْنَ نِصْفِ اللَّيْلِ وَطُلُوعِ الْفَجْرِ يَحْصُلُ السَّحُورُ بِكَثِيرِ الْمَأْكُولِ وَقَلِيلِهِ وَيَحْصُلُ بِالْمَاءِ أَيْضًا وَفِيهِ حَدِيثٌ سَنَذْكُرُهُ قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي الْأَشْرَافِ أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ السَّحُورَ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ مُسْتَحَبٌّ لَا إِثْمَ عَلَى مَنْ تَرَكَهُ
Waktu sahur berada antara pertengahan malam dan terbit fajar. Sahur bisa terwujud dengan makanan banyak ataupun sedikit, bahkan cukup dengan air minum saja. Ibnu al-Mundzir menegaskan bahwa umat Islam telah berijma’ bahwa sahur hukumnya mandub (sunnah), mustahab, dan tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.
Jadi, segelas air pun sudah bernilai sahur. Tidak harus nasi lengkap dengan lauk pauk. Yang terpenting adalah niat dan dilakukan dalam rentang waktunya.
Lantas, kapan waktu terbaiknya?
Dalam I’anatut Thalibin dijelaskan secara ringkas dan tegas:
(والحاصل) أن السحور يدخل وقته بنصف الليل، فالأكل قبله ليس بسحور، فلا يحصل به السنة، والأفضل تأخيره إلى قرب الفجر بقدر ما يسع قراءة خمسين آية.
Kesimpulannya, waktu sahur masuk sejak pertengahan malam. Makan sebelum itu tidak dihitung sahur sehingga tidak memperoleh sunnahnya. Dan yang paling utama adalah mengakhirkan sahur hingga mendekati fajar, kira-kira seukuran waktu membaca lima puluh ayat Al-Qur’an.
Praktiknya bagaimana? Jangan terlalu mepet hingga ragu sudah masuk fajar shadiq, tapi juga jangan terlalu awal hingga kehilangan keutamaannya. Di situlah letak keseimbangan yang diajarkan para ulama bahwa sahur itu ringan, fleksibel, tidak memberatkan, namun tetap berpijak pada batas waktu yang jelas.
Ringkasnya, sahur itu sunnah, waktunya jelas, bentuknya sederhana, dan yang paling utama adalah mendekati fajar tanpa melampauinya. Itu saja. Tidak rumit, tapi penuh berkah. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

