TIMES PACITAN, PACITAN – Mengundang TIMES Indonesia, MGMP Bahasa Indonesia SMP se-Kabupaten Pacitan menggelar pelatihan jurnalistik positif bertema “Implementasi Jurnalistik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia” di Aula SMP Negeri 1 Pacitan.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia guru, khususnya dalam penguatan literasi dan keterampilan menulis jurnalistik di lingkungan sekolah.
Pelatihan diikuti para guru Bahasa Indonesia dari berbagai SMP di Pacitan. Mereka diajak memahami peran jurnalistik sebagai bagian dari pembelajaran yang kontekstual, kreatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Melalui kegiatan ini, MGMP berharap pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menghasilkan karya nyata yang bermanfaat dan berdampak luas.
Peserta pelatihan tampak semangat diajari jurnalisme positif (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Kepala Biro TIMES Indonesia Pacitan, Rojihan saat memaparkan materi, menekankan pentingnya guru Bahasa Indonesia memahami dasar-dasar penulisan jurnalistik sebelum mengajarkannya kepada siswa.
Menurut dia, guru memiliki peran strategis sebagai pengarah sekaligus contoh dalam praktik menulis yang baik dan benar.
“Guru Bahasa Indonesia perlu memahami pengelolaan bahasa jurnalistik, mulai dari pemilihan diksi, penyusunan kalimat, hingga menemukan angle yang tepat agar sebuah peristiwa layak diberitakan,” katanya. Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan, banyak potensi di lingkungan sekolah yang dapat diolah menjadi produk jurnalistik.
Prestasi siswa, inovasi pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kebiasaan positif di sekolah merupakan bahan berita yang bernilai inspiratif bagi khalayak umum maupun peserta didik sendiri.
Dengan pendekatan jurnalistik positif, karya yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga membangun optimisme.
Rojihan juga menyoroti pentingnya peran guru dalam memanfaatkan media yang ada sebagai sarana pembelajaran jurnalistik.
Produk jurnalistik yang dihasilkan siswa, kata dia, dapat menjadi bagian dari proses belajar sekaligus sarana branding sekolah.
Dengan demikian, prestasi dan kegiatan positif sekolah dapat terekspos secara luas dan berimbang.
“Jurnalisme positif akan membentuk cara berpikir yang sehat dan konstruktif. Dampaknya bukan hanya untuk siswa, tetapi juga bagi sekolah dan masyarakat,” ujarnya.
Selain materi dasar penulisan, peserta pelatihan juga mendapatkan pembekalan teknis, seperti cara mengambil gambar jurnalistik, teknik wawancara, serta praktik implementasi jurnalistik dalam kegiatan belajar mengajar.
Para guru diajak merancang metode agar siswa dapat memproduksi karya jurnalistik secara sederhana namun sesuai kaidah.
Melalui pelatihan ini, MGMP Bahasa Indonesia SMP se-Kabupaten Pacitan optimistis jurnalistik bisa menjadi bagian dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Tidak hanya meningkatkan keterampilan literasi siswa, tetapi juga menumbuhkan kepekaan, kreativitas, dan semangat menyebarkan informasi positif sejak dini. (*)
| Pewarta | : Rojihan |
| Editor | : Ronny Wicaksono |