Jejak Ratusan Tahun Kera Wendit: dari Situs Suci Mataram hingga Ikon Wisata Kabupaten Malang
MALANG – Di kawasan Wisata Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, keberadaan ratusan kera yang berkeliaran di antara pepohonan besar bukanlah pemandangan baru bagi pengunjung. Mereka meloncat dari dahan ke dahan, mendekati wisatawan, bahkan terkadang duduk santai di tepi telaga. Bagi banyak orang, kawanan kera ini hanyalah bagian dari daya tarik wisata. Namun di balik itu, tersimpan kisah panjang yang diduga telah berlangsung lebih dari seribu tahun.
Sejarawan Malang, Dwi Cahyono, menyebut bahwa keberadaan koloni kera di kawasan Wendit kemungkinan telah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, sekitar tahun 891 Masehi. Menurutnya, kehadiran kawanan kera itu tidak lepas dari sejarah kawasan Wendit sebagai lokasi bangunan suci pada masa lampau.
“Bisa jadi keberadaan kawanan kera itu karena kawasan tersebut merupakan bangunan suci pada masa lalu,” ujar Dwi, Jumat (13/3/2026).
Jejak Tradisi Bangunan Suci
Dalam tradisi Hindu-Buddha kuno, bangunan suci seperti candi seringkali tidak berdiri sendiri. Di sekitarnya biasanya terdapat ekosistem alami yang tetap terjaga, termasuk keberadaan satwa tertentu.
Dwi menjelaskan bahwa dalam banyak kasus di Asia Selatan hingga Asia Tenggara, dua jenis satwa yang kerap ditemukan di sekitar kawasan suci adalah kera dan merpati.
“Kalau kita melihat ke India, Bali, atau Jawa pada masa lalu, bangunan suci seringkali dihuni dua binatang yang hadir secara alami, yaitu kera dan merpati,” jelasnya.
Fenomena ini juga dapat ditemukan di sejumlah situs terkenal di Asia, seperti Batu Caves, Pura Uluwatu, dan kawasan Sangeh Monkey Forest. Di tempat-tempat tersebut, koloni kera hidup berdampingan dengan bangunan suci yang biasanya berada di dekat sumber air dan dikelilingi vegetasi lebat.
Menurut Dwi, pola yang sama kemungkinan juga terjadi di Wendit.
“Kera pada masa lalu sering berkaitan dengan bangunan suci, karena bangunan itu biasanya ditempatkan di dekat sumber air, dengan pohon-pohon besar dan vegetasi yang rimbun,” katanya.
Lanskap Wendit di Masa Lampau
Jika melihat kondisi Wendit saat ini, gambaran itu tidak sulit dibayangkan. Kawasan telaga yang berada di tengah cekungan dikelilingi pepohonan besar yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.
Dwi menggambarkan bahwa lanskap Wendit pada masa lampau kemungkinan jauh lebih alami dibandingkan sekarang.
“Telaga Wendit itu cekung, sementara di sekelilingnya lebih tinggi dan dulu pohonnya besar-besar. Itu ekosistem yang sangat mendukung habitat kera,” ujarnya.
Lingkungan seperti itu memberikan tempat berlindung sekaligus sumber makanan alami bagi kawanan kera, sehingga mereka dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang sangat lama.
Jejak Prasasti dan Reruntuhan Candi
Sejarah kawasan Wendit juga diperkuat dengan temuan sejumlah sumber sejarah. Dwi menyebut keberadaan Prasasti Balingawan yang bertahun 891 Masehi dan Prasasti Muncang sebagai konteks sejarah penting wilayah tersebut.
Menurutnya, kedua prasasti itu menunjukkan bahwa kawasan Malang sudah menjadi bagian dari aktivitas peradaban sejak masa awal Mataram.
“Prasasti Muncang itu bertahun 944, jadi sekitar 50 tahun lebih muda dari Prasasti Balingawan. Ada kemungkinan candi di Wendit berasal dari masa yang sama dengan era prasasti itu, yakni akhir abad ke-9,” jelasnya.
Pada masa tersebut, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno masih berada di Jawa Tengah, sebelum akhirnya berpindah ke Jawa Timur pada masa Mpu Sindok setelah tahun 929 Masehi.
Sisa-Sisa Bangunan Kuno
Di kawasan Wendit sendiri, indikasi keberadaan situs kuno masih dapat ditemukan hingga kini. Dwi mengungkapkan adanya sisa-sisa struktur bata yang diduga merupakan bagian dari candi dan petirtaan kuno.
Beberapa bagian struktur tersebut tampak di sekitar pendopo hingga area kolam yang tertutup.
“Di Wendit ada candi dan ada petirtaan. Biasanya kalau ada candi, pasti ada petirtaan. Dan di sini ada keduanya,” terangnya.
Petirtaan pada masa Hindu-Buddha biasanya berfungsi sebagai tempat ritual penyucian diri, yang selalu berdekatan dengan sumber air alami seperti mata air atau telaga.
Koloni Kera yang Bertahan Berabad-Abad
Berdasarkan jejak sejarah tersebut, Dwi meyakini bahwa kawanan kera di Wendit bukanlah penghuni baru. Mereka kemungkinan telah menghuni kawasan itu selama ratusan tahun, bahkan sejak era kerajaan kuno.
“Kalau merujuk pada prasasti-prasasti itu, ditambah cerita dalam Negarakertagama, besar kemungkinan sejak 891 Masehi kera sudah ada di kawasan Wendit,” tuturnya.
Kini, lebih dari seribu tahun kemudian, kera-kera itu masih bertahan di antara pepohonan Wendit. Mereka menjadi saksi bisu perubahan zaman—dari kawasan suci di masa kerajaan, menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi masyarakat.
Di balik kelincahan kawanan kera yang sering mengundang tawa wisatawan, tersimpan cerita panjang tentang sejarah, alam, dan jejak peradaban tua yang pernah hidup di tanah Malang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
