Lebaran Tanpa Dentuman, Polres Pacitan Sikat Puluhan Meriam Pendem
Polres Pacitan amankan puluhan meriam pendem jelang Lebaran. Warga akui suasana Ramadan tahun ini lebih tenang. Penertiban di kecamatan rawan untuk ciptakan keamanan.
PACITAN – Suasana menjelang Idul Fitri 1447 H di Pacitan terasa berbeda. Suara dentuman meriam pendem yang biasanya memekakkan telinga nyaris tak terdengar. Polres Pacitan memastikan, kondisi ini bukan kebetulan.
Puluhan meriam pendem diamankan jajaran Polres Pacitan bersama TNI dalam operasi penertiban menjelang Lebaran. Langkah itu diambil untuk menjaga situasi tetap kondusif saat masyarakat merayakan hari kemenangan.
“Puluhan meriam pendem telah kami amankan,” kata Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar, Rabu (15/3/2026).
Penertiban dilakukan di sejumlah kecamatan yang selama ini dikenal rawan aktivitas meriam pendem. Di antaranya Kebonagung, Bandar, Pacitan, Tulakan, hingga Arjosari.
Hasilnya mulai terasa di lapangan. Warga pun mengakui suasana Ramadan tahun ini jauh lebih tenang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Nyaris tidak terdengar suara meriam pendem yang biasanya keras sekali,” ujar M Amruddin Latif, warga Arjosari.
Ia bercerita, pada Ramadan sebelumnya suara dentuman kerap muncul sejak pertengahan bulan. Bahkan, meski sudah dibongkar, pelaku sering kembali memasang meriam keesokan harinya.
“Tiap tahun begitu, dibongkar besok pasang lagi. Tapi sekarang sepertinya pelaku mulai jera,” imbuhnya.
Salah satu lokasi yang disasar petugas berada di Dusun Salamrejo, Desa Kebonagung. Lokasinya tak jauh, hanya sekitar satu kilometer dari kantor Polsek Kebonagung.
Di titik tersebut, petugas menemukan empat unit meriam pendem yang masih aktif. Seluruhnya langsung dibongkar dan diamankan sebagai barang bukti.
Kapolsek Kebonagung AKP Haming Agus Purnama menjelaskan, meriam pendem memang kerap dibuat warga untuk memeriahkan Lebaran. Namun, suara ledakannya dinilai mengganggu bahkan berpotensi membahayakan.
“Barang bukti kami amankan ke polres,” jelasnya.
Secara teknis, meriam pendem dibuat dari drum besi yang dirangkai memanjang, kemudian ditanam di dalam tanah. Untuk menghasilkan ledakan, alat ini memanfaatkan karbit sebagai bahan utama.
Dengan begitu, diharapkan tradisi yang berisiko tersebut bisa berkurang, sehingga perayaan Idul Fitri di Pacitan berlangsung lebih aman dan nyaman bagi seluruh warga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.