Penelusuran Ulang Sistem Gua Vertikal 246 Meter di Donorojo Ditargetkan Perkuat Basis Data Speleologi Pacitan
Pengiriman tim gabungan dilakukan dengan tujuan untuk memperbarui dan mengonsolidasi basis data akademis terkait lorong bawah tanah yang belum terverifikasi secara presisi.
PACITAN – Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Pacitan bersama komunitas Pacitan Speleology Society (PSS) mendesain ulang skema pemetaan teknis kawasan karst melalui penelusuran ulang Luweng Ombo di Dusun Petung, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo.
Agenda eksplorasi berskala nasional bertajuk "Gahvarayava Expedition" tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 18 Agustus 2026 dengan melibatkan 100 hingga 150 penelusur gua serta peneliti speleologi dari berbagai wilayah.
Kepala Disparbudpora Pacitan, Munirul Ichwan, mengonfirmasi bahwa pengiriman tim gabungan ini bertujuan memperbarui dan mengonsolidasi basis data akademis terkait lorong bawah tanah yang belum terverifikasi secara presisi.
"Ekspedisi ini bertujuan untuk melanjutkan penelusuran dan pemetaan yang telah dirintis sejak dekade 1980-an," kata Munirul Ichwan, Rabu (5/8/2026).
Langkah pemetaan ulang ini diproyeksikan untuk melengkapi inventarisasi potensi pariwisata minat khusus berbasis riset ilmiah di Kabupaten Pacitan, mengingat Luweng Ombo merupakan formasi gua vertikal (pitch) terdalam di Pulau Jawa dengan kedalaman mencapai 246 meter serta memiliki panjang sistem lorong teridentifikasi hingga 7,5 kilometer.
"Selain memperkuat data akademis, kami berharap kegiatan ini semakin menegaskan potensi pariwisata minat khusus (extreme tourism) Pacitan di mata dunia," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Koordinator Kegiatan dari PSS, Aziz Pratoko, menjelaskan bahwa penelusuran ini sekaligus memverifikasi rekam jejak eksplorasi terdahulu.
"Sejarah pemetaan sistem hidro-geologi di lokasi tersebut pertama kali dicatat oleh tim penelusur Indonesia (Mapala UI/Spelekram) pada 1982, sebelum dilanjutkan oleh ekspedisi speleologi Prancis pada 1983 dan konsorsium Anglo-Australian sepanjang periode 1984 hingga 1999," ungkapnya.
Penelusuran tahun 2026 dirancang untuk memverifikasi ulang koordinat lorong lama sekaligus menjangkau percabangan sistem bawah tanah baru yang belum terpetakan dalam literatur speleologi nasional maupun internasional.
"Selain orientasi riset pemetaan dan penerbitan jurnal ilmiah, operasional ekspedisi ini diintegrasikan dengan intervensi keanggotaan sosial berupa pendistribusian air bersih bagi kawasan terdampak kekeringan di Kecamatan Donorojo serta penyediaan infrastruktur penerangan jalan umum di sekitar," jelasnya.
Seluruh rangkaian kegiatan lapangan ini dijalankan di bawah pengawasan prosedur keselamatan ketat dengan dukungan teknis dari BPBD, Dinas Kesehatan, TNI, Polri, dan unsur relawan kebencanaan Kabupaten Pacitan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.