Kinerja Embung Pacitan yang Belum Optimal Perparah Ancaman Kekeringan 2026
Kendala teknis di lapangan membuat potensi air di beberapa titik embung akhirnya terbuang sia-sia tanpa sempat dinikmati warga maupun petani.
PACITAN – Keberadaan embung dan bangunan penampung air di Kabupaten Pacitan rupanya belum sepenuhnya mampu mengatasi ancaman krisis air bersih pada musim kemarau 2026.
Fasilitas penampung Sumber Daya Air (SDA) di wilayah tersebut masih dibelit sejumlah persoalan teknis mendasar. Alhasil, pasokan air bersih saat kemarau panjang belum terdistribusi secara maksimal.
Masalahnya terbilang klasik namun krusial. Mulai dari debit air yang mendadak anjlok saat kemarau, pendangkalan akibat sedimentasi, hingga jaringan pipa distribusi ke rumah warga yang belum tersambung utuh.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pacitan tak menampik kondisi ini. Kendala teknis di lapangan membuat potensi air di beberapa titik embung akhirnya terbuang sia-sia tanpa sempat dinikmati warga maupun petani.
Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Kabupaten Pacitan, Tri Ascaryo, membeberkan bahwa efektivitas embung sangat bergantung pada karakter dan dinamika teknis di tiap lokasi.
"Masih terdapat beberapa embung dan bangunan sumber daya air yang pemanfaatannya belum optimal," kata Tri Ascaryo, Jumat (7/8/2026).
Situasi makin berat saat melihat kondisi geografis Pacitan. Wilayah seperti Kecamatan Punung dan Donorojo didominasi kawasan karst atau batuan kapur.
Di wilayah seperti ini, air permukaan memang sangat sulit bertahan lama karena mudah meresap ke dalam tanah.
Kondisi geografis yang sulit tersebut makin diperparah oleh pola cuaca yang tak menentu akibat perubahan iklim.
"Penyebabnya antara lain menurunnya debit air pada musim kemarau, sedimentasi yang mengurangi kapasitas tampung, jaringan distribusi yang belum sepenuhnya terbangun, serta perlunya rehabilitasi dan pemeliharaan," ungkap Tri.
Fenomena iklim saat ini membuat durasi kemarau terasa lebih panjang. Sebaliknya, hujan kerap turun singkat namun dengan intensitas sangat tinggi.
Dampaknya buruk. Hujan deras dalam waktu singkat memicu erosi lahan secara masif, yang kemudian mempercepat penumpukan lumpur atau sedimentasi di dasar embung.
Pihak PUPR pun harus memutar otak agar proyek infrastruktur air tak gampang rapuh dihantam kondisi alam.
"Perubahan iklim memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perencanaan pembangunan infrastruktur sumber daya air. Karena itu setiap perencanaan kini mengintegrasikan aspek ketahanan terhadap perubahan iklim," pungkas Tri. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.