Malam 1 Suro di Pacitan Tak Dirayakan dengan Pesta, Warga Pilih Tirakat hingga Tradisi Ruwatan
Malam 1 Suro di Pacitan diisi tirakat, Mlaku Suran, dan ruwatan. Tradisi spiritual ini jadi napak tilas sejarah, doa tolak bala, dan upaya menjaga harmoni manusia dengan alam dan leluhur.
PACITAN – Malam pergantian Tahun Baru Hijriah di Kabupaten Pacitan sejak lama tidak identik dengan pesta atau kemeriahan seperti di sejumlah daerah lain. Warga, terutama generasi tempo dulu, justru menyambut malam 1 Suro dengan tirakat, doa bersama, hingga menjalankan tradisi spiritual yang diyakini membawa keselamatan.
Budayawan Pacitan, Djohan Perwiranto, mengatakan masyarakat Pacitan memiliki cara tersendiri dalam menyongsong malam 1 Muharram. Tradisi yang dijalankan lebih menekankan laku spiritual dibanding perayaan seremonial.
“Dulu, era 80-an ketika masih SMP, saya juga ikut jalan kaki dari Tegalombo ke Pancer Dorr,” kenang Djohan, Senin (15/6/2026).
Menurut Djohan, salah satu tradisi yang lekat dengan malam 1 Suro di Pacitan adalah Mlaku Suran, yakni tradisi jalan kaki massal yang sarat makna spiritual.
Kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk tirakatan, napak tilas sejarah, sekaligus ungkapan rasa syukur.

Tradisi tersebut biasanya digelar pada malam 1 Suro atau bertepatan dengan 1 Muharram. Bagi sebagian masyarakat, perjalanan panjang dengan berjalan kaki bukan sekadar ritual, melainkan bentuk pengendalian diri sekaligus doa agar tahun berikutnya membawa keselamatan dan keberkahan.
Selain Mlaku Suran, tradisi lain yang masih bertahan di sebagian masyarakat ialah ruwatan, ritual adat yang dipercaya sebagai ikhtiar menolak kesialan atau malapetaka.
Djohan menuturkan, tradisi ruwatan sebenarnya bukan hal baru di Pacitan. Bahkan, jauh sebelum dikenal dalam bentuk pertunjukan tertentu, ritual tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan pelaksanaan yang menyesuaikan hajat masing-masing.
“Sebenarnya tradisi yang masih asli seperti itu menarik untuk dikupas. Ruwatan itu sebetulnya sebelum Badut Sinampurno sudah ada. Pelaksanaanya menyesuaikan hajat,” kata Djohan saat berbicara mengenai sejumlah tradisi sakral di Pacitan yang dipercaya mampu mengusir malapetaka.
Di Pulau Jawa, tradisi ruwatan memang bukan sesuatu yang asing. Hampir setiap daerah mengenalnya, meski bentuk pelaksanaan dan tujuan ritual bisa berbeda-beda. Berbeda dengan upacara adat lain yang terikat waktu tertentu, ruwatan dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan.
Ruwatan lazim identik dengan pagelaran wayang kulit. Pelaksanaannya dapat bersifat personal maupun komunal, misalnya bagi seseorang yang dianggap memiliki kondisi tertentu dalam tradisi Jawa, seperti anak tunggal atau ontang-anting.

Sesepuh adat lokal Pacitan, Bambang Sutejo, menjelaskan kata ruwat atau ruwatan memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan tatanan kehidupan masyarakat Jawa.
“Ngrukti nganggo waton, merawat dengan dasar, membenahi dengan dasar. Arti lainnya adalah pondasi atau pakem,” ujar Bambang.
Ia menyebut, tradisi ruwatan memiliki akar sejarah yang kuat dan diyakini berkembang sejak masa Kerajaan Demak Bintoro atau periode dakwah Wali Songo, terutama melalui Sunan Kalijaga.
Proses ritual umumnya diawali dengan pertunjukan wayang kulit dan dilakukan ketika seseorang atau suatu wilayah menghadapi situasi yang dianggap membawa kesialan.
Menurut Bambang, kesakralan ruwatan tidak terletak semata pada prosesi, melainkan juga pada tata cara pelaksanaan dan pihak yang menjalankan ritual tersebut.
“Sejatinya wayang adalah gambaran hidup manusia di dunia. Diiringi dengan gamelan, dari sekian wayang tidak diperankan semuanya. Makanya kalau melihat wayang harus utuh tidak bisa sepotong-sepotong,” ucapnya.
Dalam perkembangan saat ini, Bambang menilai nilai filosofis dalam tradisi ruwatan mulai kerap terpinggirkan. Tidak sedikit ritual dilakukan tanpa memahami makna maupun pakem yang melatarbelakanginya.
Padahal, kata dia, ruwatan mengandung pesan tentang harmoni manusia dengan alam dan lingkungan sekitar. Dalam tradisi Jawa, keseimbangan itu berkaitan dengan unsur kehidupan seperti banyu (air), bumi, geni (api), dan angin.
Ia mencontohkan, dalam ritual tertentu, penyebutan wilayah dilakukan secara rinci sebagai bentuk penghormatan terhadap ruang hidup dan leluhur.
“Bismillah alfatihah kepada yang menguasai bumi leluhur mulai dari Syekh Subakir dan seterusnya,” papar Bambang saat menjelaskan makna tradisi ruwatan di Pacitan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.
