Pria di Pacitan Mengaku Hak Mutlak Tuhan, Bahkan Mengklaim Ditelepon Trump soal Konflik Dunia
Pujianto yang sempat merantau ke Malaysia seusai riwayat yayasan Amalillah miliknya bubar pada 1997 silam, kini mulai berani memaparkan ajaran dan pandangannya mengenai ketuhanan kepada awak media.
PACITAN – Sosok Pujianto Ikhsan (50), warga Dusun Plalangan, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, mendadak jadi sorotan publik.
Itu terjadi setelah ia terang-terangan mengaku dirinya sebagai 'hak mutlak milik Tuhan Yang Maha Esa' hingga mengklaim pernah dihubungi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Pria yang bermarkas di rumahnya RT 1 RW 3 dengan aula luas tempat berkumpul para pengikut dari luar daerah seperti Wonogiri hingga Ponorogo ini, secara resmi membuka tempatnya untuk umum pada Kamis (6/8/2026).
Pujianto yang sempat merantau ke Malaysia seusai riwayat yayasan Amalillah miliknya bubar pada 1997 silam, kini mulai berani memaparkan ajaran dan pandangannya mengenai ketuhanan kepada awak media.
Menariknya, di antara sederet klaim kontroversialnya, Pujianto mengaku sempat dihubungi oleh sosok penting dari Negeri Paman Sam berkaitan dengan isu perdamaian dan konflik dunia.
"Dari Amerika Serikat pernah telepon ke sini, memang pernah. Nomornya masih tersimpan, ya, nomornya masih tersimpan. Ya, masih tersimpan itu masih tersimpan," ujar Pujianto di kediamannya.
Saat ditegaskan wartawan mengenai kepemilikan nomor tersebut, ia mengisyaratkan bahwa kontak dari AS itu mengarah pada figur Donald Trump yang mendeteksi aktivitasnya.
"Kami tidak tahu persisnya apakah itu memang Donald Trump yang langsung yang meneleponnya atau siapa, tapi itu tertulis di situ memang dari Amerika Serikat langsung. Di saat kami sedang mungkin membuat status ya status saya yang mungkin terendus oleh beliau-beliaunya, terbaca oleh beliau-beliaunya itu bahwa intinya 'Oh ini kok mengindikasi bahwa ini kok sepertinya yang ditunggu-tunggu itu'," terangnya.
Meski demikian, Pujianto enggan merespons lebih jauh sambungan telepon internasional tersebut lantaran merasa belum waktunya.
"Nah, akhirnya masuklah telepon tersebut. Nomor tersebut tiba-tiba masuk. Nah akhirnya, ya udahlah kita abaikan saja dulu karena memang belum tiba saatnya," tambahnya.
Bukan Padepokan, Tolak Sebutan Imam Mahdi
Di hadapan media, Pujianto menampik anggapan bahwa dirinya mendirikan sebuah ajaran sesat atau mengaku-aku sebagai figur suci tertentu seperti Imam Mahdi. Tempat yang disediakannya murni diklaim sebagai wadah belajar bertuhan.
"Di sini saya sebagai... selaku sebagai mutlak, hak mutlak, hak milik Tuhan Yang Maha Esa. Jadi bukan sebagai apa dan siapa, bukan. Hanya itu saja, itu identitasnya," tegas Pujianto.
"Tempat ini bukan padepokan, juga bukan perkumpulan apa pun. Di sini secara pribadi dan keluarga datang itu sesekali waktu untuk sama-sama belajar bertuhan. Bertuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa," sambungnya.
Ia juga tak mempermasalahkan ragam panggilan masyarakat terhadap dirinya, mulai dari Gus, AAN, hingga Jian, meski ia tak memiliki silsilah keturunan kiai.
"Panggilan itu banyak banget. Jadi itu kan hanya mungkin sebutan-sebutan dari perorangan. Saya orang biasa, Bapak saya juga petani, Ibu saya juga petani," ujarnya.
"Lah orang manggil saya Gus, yang penting saya jangan dipanggil polisi atau dipanggil tentara," celetuknya seraya tertawa.
Pengikut Sebut 'Sang Kinasih' dan Ratu Adil
Berbeda dengan pernyataan Pujianto yang cenderung hati-hati, pandangan berbeda justru datang dari salah satu pengikut setianya, Sulardi.
Ia meyakini bahwa pimpinannya merupakan sosok utusan khusus yang fisik dan raganya telah diisi oleh ruh Tuhan.
"Raga ini disilih, dileboni Tuhan Yang Maha Esa. Wis, kuwi secara garis besare ya," ujar Sulardi dalam bahasa Jawa saat memberikan gambaran.
Sulardi mengklaim bahwa sosok Pujianto adalah figur spiritual akhir zaman yang memegang kunci kedamaian.
"Dalam dunia hal ini dinyatakan, dikatakan, namanya bisa Satrio Piningit, Ratu Adil, Imam Mahdi, juga Budha Jenggotan. Intinya dipilih. Tidak kayak Nabi Muhammad dapat wahyu, jadi nabi. Nah, ini kan tidak nabi-nabian, tapi Sang Kinasih," beber Sulardi.
Sulardi menyebut ajaran ini sebenarnya sudah berjalan secara tertutup sejak 2018. Namun, baru pada pertengahan 2026 ini diputuskan untuk dibuka secara resmi bagi masyarakat umum.
"Bedanya, kalau dulu kan disingitan (disembunyikan), berapa tahun dari tahun 2018. Lha iki tahun 2026 baru muncul di hari ini. Dibuka untuk umum. Jadi nanti orang yang taat atau tidak, itu bukan urusannya ini, tapi nyata diri yang di badannya itu," pungkasnya.
Hingga saat ini, aktivitas di kediaman Pujianto di Dusun Plalangan masih seperti biasanya.
Rumah yang ditempeli baner warna hitam dengan tulisan serba putih ditambah foto dirinya itu diklaim menceritakan hasil pemikirannya sendiri dan ilham langsung dari Tuhan Yang Maha Esa. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.