Krisis Air Bersih Mulai Terjadi di Pacitan, Warga Bedayu Bolosingo Andalkan Bantuan Tangki
PACITAN – Krisis air bersih mulai dirasakan warga Dusun Bedayu, Desa Bolosingo, Kecamatan Pacitan, meski hingga kini belum ada pengajuan dropping air ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pacitan (BPBD Pacitan).
Dusun yang terdiri atas dua rukun tetangga (RT) dengan sekitar 55 kepala keluarga (KK) itu menjadi salah satu wilayah yang setiap tahun menghadapi persoalan kekeringan saat musim kemarau tiba.
Sekretaris Desa Bolosingo, Munawan, mengatakan sumber air yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan warga ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.
Bahkan, sejumlah sumur bantuan yang pernah dibangun pemerintah juga mengalami penurunan debit hingga mengering saat kemarau.
"Pokoknya kalau tidak ada hujan, wilayah situ memang krisis air, tidak mencukupi," kata Munawan, Kamis (25/6/2026).
Meski kondisi kekeringan mulai dirasakan warga, pemerintah desa belum mengajukan permohonan dropping air bersih kepada BPBD Pacitan. "Belum mengajukan dropping air," ujarnya.
Untuk sementara, kebutuhan air bersih warga terbantu melalui bantuan yang datang dari berbagai pihak.
Salah satunya dari Polres Pacitan yang menyalurkan bantuan air bersih dalam rangka peringatan Hari Bhayangkara ke-80.
Menurut Munawan, warga baru saja menerima empat tangki air dengan total kapasitas sekitar 21 ribu liter. "Kemarin dapat bantuan air dari Polres Pacitan 4 tangki kapasitas 21 ribu liter," terangnya.
Bantuan tersebut dinilai cukup membantu warga memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari. Namun, pasokan itu belum mampu menjawab kebutuhan yang lebih besar, terutama untuk aktivitas pertanian.
"Bantuan tersebut mengurangi beban warga untuk mencukupi kebutuhan air minum, karena memang setiap kemarau Dusun Bedayu mengalami krisis air," tambahnya.
Selain bantuan dari instansi pemerintah, sejumlah komunitas sosial juga kerap mengirimkan bantuan air bersih ke wilayah tersebut saat musim kemarau berlangsung.
Munawan mengatakan dampak kekeringan tidak hanya dirasakan pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga sektor pertanian. Keterbatasan air membuat warga tidak bisa menggarap lahan seperti biasanya.
"Dampak krisis air ya tidak bisa bertani, itu pun stok air bantuan hanya untuk minum warga," katanya.
Sebelumnya, BPBD Pacitan memetakan sedikitnya 34 desa berpotensi mengalami krisis air bersih selama musim kemarau tahun ini.
Namun hingga akhir Juni, instansi tersebut mengaku belum menerima permohonan dropping air dari wilayah terdampak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan, Radite Suryo Anggoro, menyebut pihaknya tetap menyiagakan armada tangki air dan terus memantau perkembangan kondisi lapangan.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.