Warga Desa Mantren Pacitan Dihantam Krisis Air Ekstrem Akibat Pamsimas Belum Maksimal
Dari total delapan dusun yang ada di Desa Mantren, dampak bencana kekeringan terparah melanda wilayah Dusun Klepu dan Nglarangan.
PACITAN – Musim kemarau kembali memicu krisis air bersih di Desa Mantren, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan.
Warga kini harus berjuang keras memenuhi kebutuhan harian akibat infrastruktur Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang belum merata.
Dari total delapan dusun yang ada di Desa Mantren, dampak bencana kekeringan terparah melanda wilayah Dusun Klepu dan Nglarangan.
Titik krisis paling ekstrem saat ini tercatat di Dusun Nglarangan RT 4.
Di kawasan yang belum tersentuh jaringan air ini, sedikitnya 33 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 120 jiwa mengalami krisis air total.
Keberadaan Pamsimas di desa tersebut belum mampu menjadi solusi menyeluruh.
"Pamsimas belum bisa maksimal. Kalau di wilayah utara itu air hanya mengalir hari Senin dan Kamis, selain itu digilir," ungkap Kaur Kesra Desa Mantren, Pujianto, Rabu (9/9/2026).
Akses Pamsimas yang ada baru menyentuh sebagian area, seperti wilayah tengah di sekitar balai desa yang berdekatan dengan jalan raya.
Bantuan Perantau Jadi Penyelamat
Lambatnya pasokan memaksa warga mengandalkan uluran tangan pihak luar.
Empati dari masyarakat perantauan kini menjadi penyelamat sementara bagi warga yang terdampak.
Komunitas perantau tersebut berinisiatif mengirimkan bantuan berupa dua tangki air bersih yang didistribusikan ke wilayah-wilayah krisis.
Sementara itu, pihak desa saat ini baru pada tahap mengajukan permohonan bantuan dropping air kepada pemerintah melalui BPBD.
Pengajuan ini dikhususkan bagi daerah-daerah yang sama sekali belum terjangkau oleh jaringan air.
Krisis air di wilayah ini bukanlah fenomena baru, melainkan siklus bencana yang selalu berulang setiap kali musim kemarau tiba.
Meski diakui bahwa penambahan jaringan Pamsimas terus dilakukan secara bertahap setiap tahun, pemerataannya terbukti masih jauh dari kata maksimal.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan, Erwin Andriatmoko, membenarkan adanya lonjakan permintaan suplai air akibat krisis ini.
Pada Agustus lalu, hanya 28 desa yang meminta bantuan. Kini, angkanya melesat lebih dari dua kali lipat.
"Hingga saat ini, sebanyak 57 desa mengajukan permohonan dropping air. Secara total, kekeringan telah berdampak pada 186 dusun, 393 RT, dengan jumlah korban mencapai 13.195 KK atau 36.120 jiwa," beber Erwin.
Untuk menambal lubang kebutuhan akibat tak maksimalnya infrastruktur air desa, BPBD Pacitan kini harus mengerahkan armada setiap hari. Rata-rata 70 rit air bersih didistribusikan secara berkeliling.
Meski demikian, Erwin menegaskan suplai dropping diatur secara ketat. BPBD melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan bantuan tidak salah sasaran.
"Kami tidak bisa memukul rata intensitas pengiriman. Dasarnya adalah jumlah jiwa dikalikan kebutuhan air dasar," tegasnya.
Ancaman ini diprediksi masih panjang. Merujuk data BMKG, Erwin menyebut musim kemarau di Pacitan akan terus berlangsung hingga November mendatang.
Krisis air yang dipicu ketidaksiapan infrastruktur ini juga mulai merambat ke wilayah perkotaan.
Kawasan seperti Sidoharjo, Pojok, Pancer, Ploso, hingga Tanjungsari kini dilaporkan mulai mengalami penyusutan debit sumur yang drastis.
Pemkab Pacitan dituntut segera mengevaluasi keandalan Pamsimas dan PDAM agar krisis serupa tak menjadi siklus tahunan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.