Tarawih Malam ke-9 Ramadan, Pahalanya Seperti Ibadah Para Nabi
Hal ini memotivasi, karena biasanya setelah melewati sepertiga awal bulan suci, semangat sering kali mulai menurun.
TIMESINDONESIA – Salat tarawih malam ke-9 Ramadan disebut memiliki keutamaan besar. Dalam sebuah kitab klasik dijelaskan, orang yang mengerjakannya seakan-akan beribadah kepada Allah seperti ibadah para nabi.
Keterangan itu tercantum dalam Durrat al-Nasihin fi al-Wa’zhi wa al-Irsyad karya Syekh Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari.
Dalam kitab tersebut, disebutkan keutamaan khusus bagi mereka yang menunaikan tarawih pada malam kesembilan Ramadan.
Teks aslinya berbunyi:
وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللهَ تَعَالَى عِبَادَةَ النَّبِىِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
Artinya: “Pada malam kesembilan, seakan-akan beribadah kepada Allah sebagaimana ibadahnya para Nabi.”
Penjelasan ini menjadi motivasi tersendiri bagi umat Islam untuk menjaga konsistensi ibadah selama Ramadan. Setelah melewati sepertiga awal bulan suci, semangat sering kali mulai menurun.
Padahal, dalam berbagai keterangan para ulama disebut bahwa setiap malam Ramadan memiliki keutamaan yang berbeda.
Meski demikian, para ulama juga mengingatkan agar keutamaan-keutamaan seperti ini dipahami sebagai dorongan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar mengejar ganjaran.
Tarawih tetaplah ibadah sunnah yang dianjurkan, dikerjakan dengan khusyuk dan penuh kesadaran.
Malam ke-9 bisa menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas salat dengan memperpanjang bacaan, memperdalam tadabbur, dan menata kembali niat. Ramadan belum separuh jalan. Kesempatan masih terbuka lebar. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


