Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Pacitan, Nunuk Irawati memantau CKG di PIP Tremas. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

4.076 Santri Pondok Tremas Pacitan Disisir Tim Medis, Dinkes Buru Target Capaian CKG Jatim Selesai Lebih Cepat

Langkah masif di Pondok Tremas ini menjadi kunci penting Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan dalam mengejar percepatan target CKG sekolah se-Jawa Timur.

TIMES Pacitan,Senin 3 Agustus 2026, 10:06 WIB
27
Y
Yusuf Arifai

PACITANRibuan santri Perguruan Islam Pondok Tremas, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, disisir tim medis untuk menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara bertahap mulai Senin (3/8/2026). 

Program pemeriksaan kesehatan gratis ini menyasar sekitar 4.076 santri tingkat MTs, MA, hingga kelas persiapan putra-putri, dan bakal berlangsung hingga 13 Agustus mendatang.

Langkah masif di Pondok Tremas ini menjadi kunci penting Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan dalam mengejar percepatan target CKG sekolah se-Jawa Timur. 

Langkah ini sekaligus membentengi kesehatan para calon pemimpin masa depan dari ancaman penyakit fisik maupun psikologis.

Pembukaan CKG di PIP Tremas Pacitan, Senin (3/8/2026). (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Pembukaan CKG Dinkes di PIP Tremas Pacitan, Senin (3/8/2026). (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Pacitan, Nunuk Irawati, menjelaskan bahwa populasi santri di Pondok Tremas memegang porsi sangat signifikan dalam capaian angka CKG kabupaten.

"Pondok Tremas ini sasaran untuk anak SMP dan SMA hampir sepertiga dari sasaran Puskesmas Arjosari. Kalau total siswa sekolah se-Kabupaten Pacitan ada 77.000, dari Arjosari saja sudah menyumbang sekitar 5 persen dari seluruh siswa. Jadi sasaran di sini luar biasa," kata Nunuk.

Mengingat besarnya jumlah santri, Dinkes Pacitan menerjunkan tim gabungan dari Dinkes dan Puskesmas Arjosari dengan target pemeriksaan 500 santri per hari. 

Nunuk menegaskan bahwa Jawa Timur tengah melakukan percepatan target CKG sekolah agar tuntas lebih awal dari jadwal nasional.

"Sebenarnya CKG itu dari Januari sampai Desember. Namun untuk Jawa Timur, agar capaian bisa maksimal sesuai target, CKG sekolah ditargetkan selesai 4 September 2026 untuk seluruh sekolah di Pacitan. Kemarin dari Jatim ada pembaruan target, jadi ada percepatan," tegas Nunuk.

Nunuk merinci, pemeriksaan yang dilakukan mencakup status gizi, indra penglihatan dan pendengaran, kesehatan gigi, hingga skrining penyakit kulit yang kerap menjadi perhatian di lingkungan pesantren. 

Selain itu, ada pemeriksaan hemoglobin (HB) bagi santri putri serta gula darah bagi siswa SMA.

Tak berhenti pada fisik, tim medis juga menyisir kesehatan jiwa para santri.

"Yang diperiksa tidak hanya kesehatan raga, tapi juga jiwa. Gangguan jiwa itu tidak harus orang gila. Misalnya adik-adik mulai cemas, sering takut, tidak bisa tidur, atau berdebar-debar, itu sudah masuk gangguan jiwa dan bisa dideteksi lebih dini," jelasnya.

Ia pun menekankan bahwa CKG tahun ini tak sekadar mengejar kuantitas data, melainkan kualitas penanganan medis pasca-pemeriksaan.

"Tahun kedua ini kita mengarah ke kualitas. Artinya setelah dicek, mau diapakan? Tata laksana harus sampai selesai. Tidak hanya dicek saja, kalau ada yang sakit harus diobati, kalau perlu dikonsultasikan ya dikonsultasikan lebih lanjut," tambah Nunuk.

Sementara itu, Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, KH Abdillah Nawawi, menyambut hangat dan mengapresiasi penuh langkah Dinkes Pacitan. 

Di hadapan para santri, KH Abdillah mengutip pandangan Imam Syafi'i mengenai pentingnya menyelaraskan ilmu agama (ilmul adyan) dan ilmu kesehatan tubuh (ilmul abdan).

"Dua-duanya harus kita tahu dan pelajari. Jangan masa bodoh, 'wah itu urusan dokter atau perawat'. Kita semua harus mengerti paling tidak kebutuhan ilmu kesehatan yang berkaitan dengan kebutuhan harian kita," ujarnya.

KH Abdillah mengimbau para santri untuk tidak ragu terbuka mengenai kondisi tubuh mereka saat berkonsultasi dengan petugas medis. Menurutnya, menjaga kesehatan merupakan bagian dari menjalankan perintah agama.

"Tubuhmu itu punya hak yang harus kalian penuhi. Setelah kita tahu tentang kesehatan, tubuh butuh istirahat ya penuhi, jangan begadang. Seorang mukmin yang kuat itu lebih bagus dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Kalian bisa jadi tokoh kalau sehat, kalau tidak sehat ya tidak mungkin," pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.