Tingkatan Warna Hewan Kurban yang Paling Utama Menurut Ulama Syafi’iyyah
Dasar pendapat itu merujuk hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik.
JAKARTA – Ulama Syafi’iyyah menjelaskan, warna hewan kurban memiliki tingkatan keutamaan. Warna putih dinilai paling utama karena dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW saat berkurban.
Setelah putih, urutannya adalah kuning, ‘afra’ atau putih yang tidak bersih penuh, merah, belang, lalu hitam.
Dasar pendapat itu merujuk hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik.
عَنْ أَنَسٍ قالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.
Dari Anas, ia berkata: “Nabi SAW berkurban dengan dua ekor kambing jantan yang putih dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan takbir, serta meletakkan kakinya pada sisi tubuh keduanya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Imam Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan:
وَأَمَّا قَوْلُهُ أَمْلَحَيْنِ فَفِيهِ اسْتِحْبَابُ اسْتِحْسَانِ لَوْنِ الْأُضْحِيَّةِ وَقَدْ أَجْمَعُوا عَلَيْهِ قَالَ أَصْحَابُنَا أَفْضَلُهَا الْبَيْضَاءُ ثُمَّ الصَّفْرَاءُ ثُمَّ الْغَبْرَاءُ وَهِيَ الَّتِي لَا يَصْفُو بَيَاضُهَا ثُمَّ الْبَلْقَاءُ وَهِيَ الَّتِي بَعْضُهَا أَبْيَضُ وَبَعْضُهَا أَسْوَدُ ثم السوداء
“Adapun sabda Nabi ‘amlaḥain’, di dalamnya terdapat anjuran memilih warna hewan kurban yang baik. Ulama Syafi’iyyah menyebut yang paling utama adalah putih, lalu kuning, kemudian ghabra’ yaitu putih yang tidak murni, lalu balqa’ atau belang, kemudian hitam.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, juz 13 halaman 120)
Keterangan serupa disampaikan Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj.
وَأَفْضَلُهَا الْبَيْضَاءُ لِأَنَّهُ - ﷺ - «ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ» وَالْأَمْلَحُ الْأَبْيَضُ وَقِيلَ مَا بَيَاضُهُ أَكْثَرُ مِنْ سَوَادِهِ فَالصَّفْرَاءُ فَالْعَفْرَاءُ وَهِيَ مَا لَمْ يَصْفُ بَيَاضُهَا فَالْحَمْرَاءُ فَالْبَلْقَاءُ فَالسَّوْدَاءُ
“Yang paling utama adalah warna putih karena Nabi Saw berkurban dengan dua kambing putih. Makna amlah adalah putih, atau warna putihnya lebih dominan daripada hitam. Setelah itu kuning, ‘afra’, merah, belang, lalu hitam.” (Tuhfatul Muhtaj, juz 9 halaman 350)
Pendapat yang sama juga ditulis Al-Khathib Asy-Syirbini dalam Al-Iqna’.
وَأَمَّا فِي الْأَلْوَانِ فَالْبَيْضَاءُ أَفْضَلُ، ثُمَّ الصَّفْرَاءُ، ثُمَّ الْعَفْرَاءُ وَهِيَ الَّتِي لَا يَصْفُو بَيَاضُهَا ثُمَّ الْحَمْرَاءُ ثُمَّ الْبَلْقَاءُ، ثُمَّ السَّوْدَاءُ
“Dalam hal warna, yang paling utama adalah putih, kemudian kuning, lalu ‘afra’, merah, belang, dan hitam.” (Al-Iqna’, juz 2 halaman 590)
Meski demikian, urutan warna ini hanya berkaitan dengan keutamaan, bukan syarat sah kurban. Hewan kurban tetap sah selama memenuhi ketentuan syariat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.