Jejak Halal Bihalal, Tradisi Lebaran yang Dirintis Kiai Wahab untuk Dinginkan Suhu Politik
TIMES Pacitan/Pengasuh PIP Tremas Pacitan KH Luqman Al Hakim HD saat memaparkan esensi dan sejarah halal bihalal. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Jejak Halal Bihalal, Tradisi Lebaran yang Dirintis Kiai Wahab untuk Dinginkan Suhu Politik

Gagasan halal bihalal dirintis pendiri Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah, pada 1948 sebagai cara meredakan konflik di antara elite politik.

TIMES Pacitan,Rabu 18 Maret 2026, 12:32 WIB
162
Y
Yusuf Arifai

JAKARTATradisi halal bihalal yang kini identik dengan Lebaran ternyata lahir dari situasi politik Indonesia yang tegang.

Gagasan itu dirintis pendiri Nahdlatul Ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah, pada 1948 sebagai cara meredakan konflik di antara elite politik.

 Atas usul sang kiai, Presiden Soekarno kemudian mengundang para tokoh bangsa ke Istana Negara saat Idul Fitri untuk saling memaafkan.

Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi biasa. Kiai Wahab melihat pertikaian politik yang memanas saat itu sebagai sesuatu yang 'haram' jika terus dibiarkan. Karena itu, ia menawarkan jalan keluar duduk bersama di hari kemenangan, lalu saling memaafkan.

Usulan tersebut diterima Soekarno. Pada Idul Fitri 1948, para tokoh politik diundang ke Istana Negara. Mereka berkumpul, bersalaman, dan bermaafan. Dari pertemuan itulah istilah halal bihalal mulai dikenal luas.

Secara bahasa, istilah itu memang tidak ditemukan secara persis dalam tradisi Arab. Istilah halal bihalal merupakan rangkaian kata yang berkembang di Indonesia.

Maknanya merujuk pada upaya 'menghalalkan' kembali hubungan yang sempat retak dengan cara saling memaafkan dan melepaskan kesalahan.

KH Abdul Wahab Chasbullah sendiri dikenal sebagai Rais ‘Aam pertama PBNU. Gagasannya kala itu tidak hanya meredakan ketegangan politik, tetapi juga memperkenalkan model rekonsiliasi yang sederhana dan mudah diterima masyarakat.

Seiring waktu, tradisi itu meluas. halal bihalal tidak lagi terbatas di lingkaran elite politik. Tradisi tersebut kemudian diikuti masyarakat luas, baik di kantor, sekolah, pesantren, hingga kampung-kampung.

Setiap selesai Idul Fitri, orang-orang berkumpul. Bersalaman, bermaafan, dan mempererat kembali hubungan yang sempat renggang. Tradisi yang berakar dari gagasan seorang ulama itu akhirnya menjelma menjadi budaya khas Lebaran di Indonesia.

Di situlah esensi halal bihalal memperkuat persaudaraan dan menjaga persatuan, terutama setelah menjalani Ramadan. Sebuah tradisi sederhana, tetapi lahir dari kebutuhan besar untuk merawat kebersamaan bangsa. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.