Proyek pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Pacitan mencapai 90 persen dan belum siap digunakan untuk aktivitas pembelajaran. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Pembangunan Sekolah Rakyat Pacitan Meleset dari Target, Ratusan Siswa Numpang Belajar di Sekolah Rintisan

Meski mengklaim progres fisik bangunan sudah menyentuh angka 90 persen lebih, Dinsos Pacitan mengklaim sejumlah fasilitas vital penunjang kehidupan siswa di asrama belum siap pakai.

TIMES Pacitan,Senin 3 Agustus 2026, 10:01 WIB
304
Y
Yusuf Arifai

PACITANProyek pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Kabupaten Pacitan dipastikan ngaret dari jadwal yang ditentukan. 

Imbas belum beresnya sarana dan prasarana (sarpras) di kompleks sekolah baru, ratusan siswa kini terpaksa mengungsi dan menumpang belajar sementara di lokasi sekolah rintisan.

Tak cuma itu, agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi ratusan siswa baru maupun siswa lama terpaksa ditunda hingga 15 Agustus 2026 mendatang.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Pacitan, Heri Setijono, tak menampik lambatnya penyelesaian infrastruktur dasar tersebut. 

Pihaknya memutuskan menahan kepindahan siswa demi mengantisipasi masalah di kemudian hari. "Sarana belajar masih proses finishing," aku Heri saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).

Meski mengklaim progres fisik bangunan sudah menyentuh angka 90 persen lebih, Heri mengakui sejumlah fasilitas vital penunjang kehidupan siswa di asrama belum siap pakai.

Pekerjaan fisik saat ini masih kedodoran memburu penyelesaian pasokan air bersih, fasilitas asrama tempat tinggal siswa, hingga pembenahan akhir (finishing) ruang kelas.

Pemkab Pacitan berdalih ogah memaksakan siswa menempati kompleks anyar jika kebutuhan dasar seperti air bersih belum berfungsi optimal.

Pekerja proyek pembangunan gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi di Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Pekerja proyek pembangunan gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi di Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Belajar di Gedung Sementara, Nasib 408 Siswa Mengambang

Akibat penundaan kepindahan ini, aktivitas pembelajaran 408 siswa SRT Pacitan terpaksa dijalankan secara darurat di sekolah rintisan, baik untuk kelas reguler maupun fasilitas asramanya.

Kondisi ini menimpa 260 siswa baru jenjang SMA serta 148 siswa kelas XI yang merupakan hasil peleburan (merger) dari SRMA 23 dan SRMA 46 Pacitan.

Seluruh siswa ini nantinya baru bisa menempati kompleks gedung permanen jika pengerjaan fisik dinyatakan benar-benar rampung 100 persen.

Nantinya, pada 15 Agustus mendatang, seluruh angkatan murid dipastikan wajib menyapu ulang kegiatan MPLS guna mengenali lingkungan sekolah baru yang sempat tertunda peluncurannya tersebut. 

"Memang gedung SR rintisan untuk persiapan sebelum gedung permanen selesai dan fungsional ditempati," tandas Heri Setijono. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.