Pelototi Kedisiplinan Guru Lewat Absensi Online, Dindik Pacitan: Kepala Sekolah Jadi Jaminan
Melalui penerapan sistem absensi online yang terintegrasi secara real-time, pergerakan serta kedatangan para pendidik di tiap satuan pendidikan kini terpantau ketat hingga hitungan menit dan detik.
PACITAN – Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan (Dindik Pacitan) memangkas celah 'titip absen' dan ulah 'guru gaib' di wilayahnya.
Melalui penerapan sistem absensi online yang terintegrasi secara real-time, pergerakan serta kedatangan para pendidik di tiap satuan pendidikan kini terpantau ketat hingga hitungan menit dan detik.
Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dindik Pacitan, Rino Budi Santoso, menegaskan bahwa digitalisasi absensi ini diresmikan untuk menjawab tuntutan zaman sekaligus mempermudah kontrol kedisiplinan guru di seluruh pelosok Pacitan.
Menurut Rino, sebetulnya absensi itu hanya merubah sistem dari manual ke sistem online. Tapi dengan online system, pihaknya bisa mengontrol setiap hari, setiap saat.
"Ketika sekolah A, sekolah B, kedatangan teman-teman guru itu seperti apa, bahkan menit-detik pun kita tahu," ujar Rino Budi Santoso saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/8/2026).
Meski sistem online sudah memagari ruang gerak guru yang mangkir, Rino menegaskan kunci utama pengendalian dan kejujuran kehadiran berada di tangan kepala sekolah selaku atasan langsung.
Ia memberikan peringatan keras kepada para kepala sekolah agar tidak memanipulasi atau melindungi anak buahnya yang melanggar aturan.
Sebab, risiko hukum dan sanksi administrasi akan langsung menyeret sang pimpinan sekolah.
Rino menegaskan, tanggung jawab kehadiran itu ada di atasan langsung, yaitu kepala sekolah. Kalau kepala sekolah sudah tidak punya itikad baik untuk mengendalikan, semua menjadi sama saja.
"Tapi berat ketika kepala sekolah berani mengambil risiko. Contoh misalkan, guru tidak hadir tapi diabsenkan, tiba-tiba guru itu ada masalah, artinya kepala sekolah yang jadi jaminan. Orangnya hadir kok tiba-tiba tidak ada," cetus Rino.
Mata-Mata Terbaik: Dari Komite hingga Siswa
Langkah pengetatan disiplin ini diakui Rino makin efektif berkat peran aktif masyarakat, komite sekolah, hingga para murid itu sendiri.
Menurutnya, era digital membuat masyarakat tak lagi segan melaporkan oknum pengajar yang hobi terlambat atau bolos mengajar.
Bahkan, kepekaan murid-murid usia sekolah dasar saat ini menjadi 'alarm' paling ampuh bagi Dinas Pendidikan untuk melakukan evaluasi.
"Kontrol masyarakat sekarang luar biasa. Kita tidak bisa sembarangan. Apalagi siswa kecil kita sekarang hafal. 'Guru saya enggak masuk, guru saya terlambat,' gitu," ucap Rino.
"Karena tempatnya jauh-jauh, info dari masyarakat dan wali murid itu sangat kami butuhkan untuk mendampingi sistem online ini," tambahnya.
Pengetatan sistem absensi online ini juga menjadi senjata andalan Dindik Pacitan di tengah krisis jumlah pengawas sekolah.
Saat ini, Pacitan hanya ditopang oleh 24 pengawas dari kebutuhan ideal 71 orang, di mana 1 pengawas terpaksa membina hingga 33 sekolah.
Mengenai penataan guru, Rino mengimbau para ASN agar memegang teguh komitmen penempatan di mana saja dan tidak menjadikan jarak domisili seperti di wilayah Bandar, Nawangan, atau Tegalombo sebagai alasan menurunnya etos kerja.
"Sesuai regulasi ASN, jarak tempat tinggal tidak boleh jadi alasan. Terkait mutasi atau konflik internal, kita punya kewenangan melakukan penataan sementara demi menjaga kondusifitas KBM sebelum diputuskan secara definitif oleh tim Baperjakat kabupaten," tutupnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.