Wujudkan Pesantren Ramah Santri, MTs Pondok Tremas Pacitan Gelar Workshop Anti-Bullying
Melalui workshop ini, seluruh elemen di lingkungan MTs Pondok Tremas dibekali pemahaman mendalam terkait bahaya serta dampak psikologis dari aksi perundungan.
PACITAN – MTs Pondok Tremas Pacitan menggelar workshop pencegahan dan penanganan perundungan (anti-bullying) bersama Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Sigit Purnama, S.Pd.I., M.Pd. pada Jumat (21/8/2026).
Digelar untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah santri, kegiatan yang berlangsung di gedung Aula Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan ini diikuti oleh jajaran tenaga pendidik, guru madrasah, hingga para pengasuh pesantren.
Agenda edukatif ini dirancang sebagai langkah nyata merespons tantangan pengasuhan di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan.
Melalui workshop tersebut, seluruh elemen di lingkungan MTs Pondok Tremas dibekali pemahaman mendalam terkait bahaya serta dampak psikologis dari aksi perundungan, baik berupa tindakan fisik, intimidasi verbal, maupun perundungan di dunia maya (cyberbullying).
Stop Intimidasi di Lingkungan Pendidikan Islam
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Sigit Purnama menekankan bahwa iklim pesantren harus steril dari segala bentuk intimidasi.
Menurut pakar teknologi pendidikan UIN Sunan Kalijaga ini, kebiasaan saling menghormati dan menyayangi antar-santri merupakan fondasi utama kehidupan di dalam pondok.
"Pesantren adalah kawah candradimuka bagi pembentukan akhlakul karimah. Praktik perundungan, sekecil apa pun itu tidak boleh mendapat tempat di lingkungan pendidikan Islam. Kita harus membangun ekosistem pengasuhan berbasis rasa kasih sayang dan kepedulian antar-santri," tegas Prof. Sigit di hadapan para peserta.
Ia mengingatkan bahwa ancaman perundungan saat ini tidak hanya terjadi secara tatap muka di lingkungan kamar atau madrasah.
Perkembangan media sosial turut membuka celah terjadinya cyberbullying yang dapat merusak kesehatan mental santri.
Oleh karena itu, kesadaran kolektif dari seluruh komunitas pesantren menjadi kunci utama agar iklim belajar tetap kondusif dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Peran Sentral Guru dan Pengasuh Pesantren
Lebih lanjut, Prof. Sigit menggarisbawahi pentingnya deteksi dini oleh jajaran pendidik. Guru dan pengasuh diimbau tidak acuh terhadap perubahan perilaku santri, terutama yang menunjukkan gejala trauma atau depresi akibat tekanan teman sebaya.
Ia menegaskan bahwa pengurus dan guru memiliki peran ganda yang sangat strategis. Mereka tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga bertindak sebagai pengayom dan tempat berlindung bagi para santri.
"Keterlibatan guru dan pengurus pondok menjadi kunci utama dalam mendeteksi sejak dini indikasi terjadinya perundungan. Guru dan pengurus diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pengayom yang responsif terhadap perubahan perilaku santri," tambah Prof. Sigit.
Komitmen MTs Pondok Tremas Kawal Pesantren Ramah Anak
Pihak pengelola MTs Pondok Tremas menyambut positif sosialisasi dan panduan yang disampaikan oleh narasumber. Pihak madrasah menegaskan komitmennya untuk terus mengawal iklim pendidikan yang inklusif dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Sementara itu, mewakili madrasah, Mohammad Ihya'uddin menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pijakan awal dalam menyusun langkah pencegahan perundungan yang lebih terstruktur di internal pesantren.
"Melalui edukasi yang disampaikan Prof. Sigit, kami berharap seluruh elemen madrasah dapat bersinergi mencegah perundungan. Kami berkomitmen penuh mewujudkan MTs Pondok Tremas sebagai madrasah dan pesantren yang aman, sehat secara mental, serta mendukung tumbuh kembang santri secara optimal," ungkapnya.
Sediakan Panduan Praktis dan Jalur Pelaporan Aman
Dalam rangkaian acara tersebut, para peserta tidak hanya menyimak materi teoretis, tetapi juga mendapatkan pembekalan panduan praktis penanganan kasus.
Pelatihan ini mencakup tata cara merespons aduan, pendekatan kepada korban, hingga mekanisme pelaporan tindakan perundungan secara aman.
Adanya sistem dan mekanisme pelaporan yang jelas diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi santri untuk berani bersuara ketika melihat atau mengalami tindakan tidak menyenangkan di lingkungan pesantren.
Langkah preventif ini sekaligus mempertegas komitmen Pondok Tremas Pacitan sebagai institusi pesantren salaf yang tetap memegang teguh nilai kearifan lokal dan tradisi keislaman, sekaligus responsif serta adaptif terhadap isu-isu perlindungan anak dan kesehatan mental di era modern. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.