Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Raih Best Idea NSAC 2026, Tawarkan Pendidikan Sains Berbasis Eco-Maqashid
Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan usai meraih Best Idea NSAC 2026 berkat penelitian yang menawarkan model pendidikan sains berbasis Eco-Maqashid. (Foto: MAT for TIMES Indonesia)

Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Raih Best Idea NSAC 2026, Tawarkan Pendidikan Sains Berbasis Eco-Maqashid

Dua mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan raih Best Idea NSAC 2026 lewat model Eco-Maqashid, yang mengintegrasikan sains, teknologi digital, dan etika lingkungan berbasis maqashid syariah.

TIMES Pacitan,Jumat 12 Juni 2026, 20:18 WIB
195
Y
Yusuf Arifai

PACITANDua mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan, Samsul Rozikin dan Mukhammad Roikhan, meraih penghargaan Best Idea dalam ajang National Scientific Article Competition (NSAC) 2026 melalui gagasan pendidikan sains berbasis Eco-Maqashid, model pembelajaran yang mengintegrasikan sains, teknologi digital, dan etika lingkungan berbasis maqashid al-shari’ah.

Penghargaan itu diraih dalam kompetisi yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Syaikh Wasil Kediri melalui karya ilmiah berjudul “Eco-Maqashid Learning Model: Transforming Scientific Literacy Through Maqashid-Oriented Environmental Ethics in Digital Science Education”.

Lewat riset tersebut, keduanya menawarkan pendekatan baru pembelajaran sains yang tidak berhenti pada penguasaan teori, melainkan juga mendorong kesadaran ekologis dan tindakan nyata peserta didik dalam menjaga lingkungan.

Gagasan itu lahir dari temuan adanya persoalan mendasar dalam pendidikan sains modern. Menurut mereka, kemampuan memahami konsep ilmiah belum selalu berjalan beriringan dengan perilaku ekologis yang bertanggung jawab atau dikenal sebagai knowledge-action gap.

Kondisi tersebut membuat peserta didik kerap mampu menjelaskan persoalan lingkungan secara akademik, tetapi belum memiliki dorongan etis untuk meresponsnya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sains, dalam praktiknya, masih cenderung menitikberatkan aspek teoritis dibanding pembentukan kesadaran lingkungan.

Berangkat dari persoalan itu, Samsul dan Roikhan mengembangkan model Eco-Maqashid Scientific Learning (EMSL) sebagai kerangka pembelajaran yang memperluas makna literasi sains.

Melalui model ini, literasi sains tidak hanya dipahami sebagai penguasaan pengetahuan, melainkan juga mencakup kemampuan menalar, mempertimbangkan nilai, hingga mengambil tindakan nyata berbasis kesadaran ekologis.

“Pembelajaran sains tidak cukup berhenti pada pemahaman konsep, tetapi harus mampu membentuk kesadaran etis dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan,” ujar Samsul Rozikin, Jumat (12/6/2026).

Menurut Samsul, pendidikan perlu bergeser dari pola transfer pengetahuan semata menuju pembentukan karakter dan tanggung jawab ekologis. Karena itu, nilai etika lingkungan perlu dihadirkan dalam proses belajar agar sains tidak dipahami sebatas teori, tetapi memiliki makna dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Dalam model EMSL, prinsip-prinsip maqashid al-shari’ah dijadikan landasan etika pembelajaran sains. Sejumlah nilai seperti hifz al-bi’ah atau perlindungan lingkungan, hifz al-nafs atau perlindungan kehidupan, hingga prinsip keberlanjutan dan kemaslahatan ditempatkan sebagai pijakan membangun kesadaran ekologis peserta didik.

Pendekatan ini memosisikan sains bukan sekadar ilmu yang netral, melainkan sarana untuk menciptakan kemaslahatan bersama dan menjaga keseimbangan kehidupan.

Adapun implementasinya dirancang melalui lima tahapan pembelajaran, yakni kontekstualisasi persoalan ekologis berbasis realitas, investigasi ilmiah berbasis teknologi digital, refleksi nilai berbasis maqashid, penalaran etis berbasis data, hingga aksi nyata melalui proyek lingkungan.

Setiap tahapan diarahkan agar peserta didik tidak hanya memahami fenomena alam secara ilmiah, tetapi juga mampu melihat konsekuensi etis dari persoalan lingkungan dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Riset tersebut dinilai memiliki relevansi terhadap berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga krisis keberlanjutan. Model Eco-Maqashid disebut berpotensi menjadi alternatif pendekatan pendidikan sains berbasis nilai, baik di tingkat nasional maupun internasional, sejalan dengan penguatan education for sustainable development.

“Melalui model ini, kami berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dan tanggung jawab moral dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan,” ujar Mukhammad Roikhan.

Prestasi ini sekaligus memperlihatkan kontribusi pesantren dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi pendidikan. Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan dinilai mampu mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan sains modern.

Ke depan, model Eco-Maqashid diharapkan dapat dikembangkan lebih luas melalui implementasi kurikulum dan pengujian empiris di berbagai jenjang pendidikan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.