Hari Lingkungan Hidup, Ketua STKIP PGRI Pacitan: Jaga Iklim Harus Dimulai dari Aksi Sederhana
STKIP PGRI Pacitan memperingati Hari Lingkungan Hidup 2026 dengan aksi bersih-bersih pantai. (FOTO: Bakti for TIMES Indonesia)

Hari Lingkungan Hidup, Ketua STKIP PGRI Pacitan: Jaga Iklim Harus Dimulai dari Aksi Sederhana

Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, menegaskan upaya menjaga iklim tidak bisa lagi menunggu kebijakan besar atau langkah jangka panjang.

TIMES Pacitan,Sabtu 6 Juni 2026, 13:50 WIB
57
Y
Yusuf Arifai

PacitanKetua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, menegaskan upaya menjaga iklim tidak bisa lagi menunggu kebijakan besar atau langkah jangka panjang. 

Kesadaran merawat lingkungan, kata dia, harus dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan bersama, termasuk melalui kegiatan bersih-bersih pantai.

Pernyataan itu disampaikan Bakti dalam momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengangkat tema “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future”. 

Tema tersebut, menurut dia, mengingatkan bahwa alam harus menjadi sumber inspirasi dalam menjaga iklim sekaligus masa depan kehidupan.

“Bagi saya, peringatan ini bukan hanya seremoni tahunan. Ini pengingat bahwa bumi sedang memberi tanda,” ujar Bakti, Sabtu (6/6/2026).

article

Ia menilai berbagai perubahan lingkungan kini semakin nyata dirasakan masyarakat. Cuaca disebut semakin sulit diprediksi, suhu meningkat, hingga bencana ekologis yang terjadi lebih sering dibanding sebelumnya.

“Cuaca makin tidak menentu, suhu makin panas, bencana ekologis makin sering terjadi, dan lingkungan hidup kita menghadapi tekanan serius,” katanya.

Karena itu, menjaga iklim, lanjut dia, tidak cukup berhenti pada kesadaran semata, tetapi harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret yang dilakukan secara bersama-sama.

Bakti menilai kalangan akademisi memiliki tanggung jawab lebih besar dalam merespons persoalan lingkungan. Kampus, menurut dia, tidak cukup hanya memahami perubahan iklim sebagai isu ilmiah, melainkan juga harus hadir menjadi bagian dari solusi.

“Kampus harus menjadi ruang yang menumbuhkan kesadaran ekologis,” ucapnya.

Ia mengatakan seluruh elemen perguruan tinggi, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga tenaga kependidikan perlu membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. 

article

Langkah tersebut bisa dilakukan melalui pengurangan sampah plastik, penghematan energi, menjaga ruang hijau, hingga memperkuat penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis lingkungan.

Selain itu, akademisi dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat. Penelitian, kata Bakti, tidak boleh berhenti di ruang seminar, jurnal, atau laporan akademik semata.

“Ilmu pengetahuan harus turun ke ruang sosial. Hasil kajian harus bisa membantu masyarakat memahami risiko kerusakan iklim dan menemukan cara sederhana untuk menghadapinya,” katanya.

Dalam konteks itu, kegiatan bersih-bersih pantai yang dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan dan berbagai elemen masyarakat disebut memiliki makna lebih luas dibanding sekadar aksi simbolik.

Menurut Bakti, pantai bukan hanya ruang wisata, melainkan bagian penting dari ekosistem pesisir yang perlu dijaga. 

Jika kawasan pantai dipenuhi sampah, terutama plastik, dampaknya dapat merusak biota laut hingga mengganggu keseimbangan ekosistem.

“Pantai adalah bagian penting dari ekosistem pesisir. Jika pantai kotor, sampah plastik akan masuk ke laut, mengganggu biota laut, merusak ekosistem, dan pada akhirnya berdampak pada kehidupan manusia,” ujarnya.

Ia menyebut kegiatan bersih-bersih pantai juga menjadi bentuk pendidikan lingkungan secara langsung. Masyarakat diajak memahami bahwa menjaga iklim tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari tindakan paling dekat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kadang dimulai dari memungut sampah, memilah plastik, mengurangi limbah, dan membangun kepedulian bersama,” kata Bakti.

Bagi perguruan tinggi, kegiatan tersebut juga menjadi bagian nyata pelaksanaan tridharma. 

Mahasiswa memperoleh pembelajaran langsung dari lingkungan, persoalan sampah dapat dikaji secara ilmiah, dan kampus hadir bersama masyarakat untuk merawat ruang hidup bersama.

“Pesan utamanya, menjaga iklim harus dilakukan sekarang, bukan nanti,” tuturnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.