Tekan Distraksi Eksternal, MA Ma'arif Pacitan Gratiskan Asrama demi Pertahankan Tradisi Sorogan
Siswa tidak hanya dituntut menuntaskan kurikulum formal madrasah, tetapi juga diinkubasi dalam asrama gratis untuk mempertahankan tradisi pesantren salaf melalui kajian kitab kuning dan metode sorogan Al-Quran.
PACITAN – Madrasah Aliyah atau MA Ma’arif Pacitan merespons tantangan pendidikan modern pada tahun ajaran 2026/2027 dengan mewajibkan sistem pendidikan ganda.
Siswa tidak hanya dituntut menuntaskan kurikulum formal madrasah, tetapi juga diinkubasi dalam asrama gratis untuk mempertahankan tradisi pesantren salaf melalui kajian kitab kuning dan metode sorogan Al-Quran.
Langkah sentralisasi ini diambil untuk menjamin otentisitas pemahaman agama (sanad keilmuan) sekaligus memangkas distraksi pergaulan luar.
Melalui fasilitas asrama, madrasah dapat mengawasi ketat interaksi keilmuan secara langsung antara guru dan murid di luar jam sekolah reguler.
Kepala MA Ma’arif Pacitan, Nur Aripin, menyebut inovasi ini dirancang agar lulusan memiliki landasan spiritual yang ajeg saat berhadapan dengan modernisasi.
"Kami memadukan kurikulum madrasah dan pesantren agar siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual. Melalui pendalaman kitab kuning dan sorogan, kami ingin melahirkan lulusan yang siap menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri," tuturnya, Selasa, 1 September 2026.
Target Capaian Kurikulum Ganda MA Ma'arif Pacitan:
- Otentisitas Sanad: Interaksi tatap muka melalui metode sorogan memastikan validitas bacaan dan literasi tafsir agama tidak terputus.
- Karantina Akademik: Lingkungan asrama menekan paparan pengaruh luar, memudahkan siswa fokus bermujahadah membedah literatur klasik.
- Keseimbangan Kompetensi: Penguasaan sains umum di kelas berjalan seimbang dengan ilmu agama (tafaqquh fiddin) di asrama.
- Kemandirian Hidup: Kehidupan komunal memaksa siswa beradaptasi dengan ritme kedisiplinan dan budaya sederhana ala santri.
Pembatasan akses eksternal melalui asrama ini diakui efektif oleh para siswa mukim dalam menjaga ritme akademik.
Ayu Bunga, salah satu santriwati yang menetap di asrama, menyebut lingkungan komunal justru menekan hambatan belajar.
"Tinggal di asrama membuat saya bisa lebih fokus memperdalam kajian kitab kuning dan memperbaiki bacaan melalui metode sorogan. Suasana kekeluargaan di sini juga sangat membantu kami untuk saling mendukung saat belajar," ujar Ayu. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.