105 Tahun SDN 1 Gedompol Pacitan, Tradisi Megengan Jadi Panggung Pendidikan Karakter
Tradisi Megengan yang selama ini identik dengan budaya masyarakat menjelang momentum keagamaan diangkat menjadi bagian utama perayaan sekolah.
PACITAN – SDN 1 Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, memilih cara berbeda dalam merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-105.
Sekolah yang dikenal dengan nama Estupol itu menjadikan tradisi lokal sebagai medium pendidikan karakter melalui kegiatan bertajuk 'Ultramen' (Ulang Tahun dan Tradisi Megengan), Kamis (28/5/2026).
Tradisi Megengan yang selama ini identik dengan budaya masyarakat menjelang momentum keagamaan diangkat menjadi bagian utama perayaan sekolah.
Melalui kirab tumpeng, pentas budaya, hingga kegiatan kepramukaan, siswa diajak mengenal nilai kebersamaan, gotong royong, dan identitas lokal sejak dini.
Kepala SDN 1 Gedompol, Nariyanto, mengatakan usia sekolah yang telah menembus satu abad lebih menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter tanpa meninggalkan akar budaya.
“Di usia yang ke-105 tahun ini, kami ingin Estupol tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter dan cinta budaya,” ujar Nariyanto.
"Oleh karena itu, kami mengambil tema ‘Ultramen’. Ini adalah langkah nyata kami menggabungkan antara kepramukaan dengan adat tradisi lingkungan sekolah," sambungnya.
Perayaan HUT tahun ini dirancang tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sekolah menyusun rangkaian aktivitas yang melibatkan siswa, guru, hingga masyarakat sekitar.
Agenda dimulai dengan Perjusami (Perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu) untuk melatih kemandirian, kepemimpinan, dan kerja sama antarsiswa melalui pendidikan kepramukaan.
Sekolah juga menggelar turnamen tenis meja antarinstansi, yang mempertemukan guru dan unsur lembaga di sekitar lingkungan sekolah dalam suasana kompetitif sekaligus kekeluargaan.
Namun, perhatian terbesar tertuju pada Kirab Tumpeng Megengan. Tradisi tersebut menghadirkan arak-arakan tumpeng yang diikuti kepala dusun se-rayon SDN 1 Gedompol sebagai simbol syukur dan kebersamaan masyarakat.
Pada malam hari, siswa menampilkan kreativitas melalui pentas seni dan api unggun, sebelum ditutup pertunjukan wayang kulit oleh dalang cilik Adam Nur Rohman bersama pengrawit siswa dari Sanggar Budi Arum Budaya Estupol.
Bagi sekolah, pelibatan budaya lokal bukan sekadar hiburan, melainkan cara memperkenalkan warisan tradisi kepada siswa di tengah arus digitalisasi.
Di usia ke-105 tahun, SDN 1 Gedompol mencoba menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga tempat menjaga nilai budaya agar tetap hidup di generasi muda. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.