Gandeng TIMES Indonesia, Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan Gelar Pelatihan Jurnalistik
Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan gelar pelatihan jurnalistik tiga hari untuk mahasantri. TIMES Indonesia beri pembekalan teknik penulisan, videografi, hingga SEO. Peserta juga praktik wawancara dan fotografi berita.
PACITAN – PACITAN – Guna menghidupkan kembali geliat pers kampus, Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan menggelar pelatihan jurnalistik intensif untuk menyiapkan para mahasantri agar cakap dalam memproduksi konten digital serta mengabarkan nilai-nilai positif kepesantrenan.
Agenda yang berlangsung selama tiga hari hingga Senin (6/7/2026) ini memfokuskan materi pada penulisan berita, videografi, fotografi, hingga manajemen pengelolaan media sosial.
Kepala Biro Humas dan IT Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan, Yusuf Arifai, menegaskan bahwa ilmu jurnalistik memiliki relevansi tinggi di berbagai sektor industri modern, mulai dari kehumasan lembaga hingga instansi pemerintahan.
"Pelatihan jurnalistik itu dalam rangka menghidupkan kembali pers kampus. Selain menjadi penyambung lidah rakyat, mahasantri juga memiliki kewajiban memberikan inspirasi masyarakat dengan berita, konten juga pesan positif yang membangun," ujar Yusuf, Sabtu (4/7/2026).
Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kerja Sama Ma'had Aly, Zanuar Mubin, mengingatkan mahasantri untuk memperkaya pengalaman praktis di luar kelas. "Jangan hanya kuliah tanpa pengalaman tambahan, siapa tahu setelah lulus, keahlian jurnalistik, bermedia, desain, dan lain-lain menjadi pintu rejeki yang jauh lebih terbuka," katanya.
Gandeng TIMES Indonesia
Pada hari pertama, kampus menggandeng TIMES Indonesia untuk pembekalan teknik penulisan berita dan kreativitas di tengah gempuran AI. Kepala Biro TIMES Indonesia Kabupaten Pacitan, Rojihan, menekankan bahwa media membentuk opini publik dan mengajak peserta mengadopsi prinsip jurnalisme positif.
"Sesuai tagline TIMES Indonesia, Jurnalisme Positif. Mulai saat ini kita mulai nulis hal yang baik-baik saja," cetus Rojihan.
Selain formula 5W+1H, akurasi, dan verifikasi, peserta juga dilatih taktik menyusun artikel yang ramah SEO. "Berita yang baik harus mudah dipindai pembaca, menarik perhatian, mudah ditemukan melalui mesin pencari, serta memberi manfaat bagi masyarakat," imbuhnya.
Kurikulum pelatihan juga mewajibkan praktik lapangan: simulasi wawancara, pemahaman Kode Etik Jurnalistik, teknik foto berita, hingga pemanfaatan media sosial sebagai etalase publikasi prestasi pesantren. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.