Pers dan Akal Sehat yang Tak Pernah Kebagian Kursi Kehormatan
TIMES Pacitan/Yusuf Arifai, Wartawan Madya yang bergabung TIMES Indonesia sejak 2021, Dosen Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan.

Pers dan Akal Sehat yang Tak Pernah Kebagian Kursi Kehormatan

Pers hanyalah upaya sederhana warga negara untuk tidak diam ketika kebodohan mulai merasa sah, dan kekuasaan mulai lupa bercermin.

TIMES Pacitan,Selasa 10 Februari 2026, 10:00 WIB
313
H
Hainor Rahman

PacitanPers tidak pernah lahir dari ruang yang ramah. Ia tumbuh dari kegelisahan, dari kebiasaan bertanya ketika orang lain sudah puas dengan jawaban resmi, dan dari keberanian mencatat sesuatu yang sebenarnya ingin segera ditinggalkan oleh sejarah. Karena itu, pers hampir selalu berada di pinggir kenyamanan yang tidak sepenuhnya diterima, tetapi juga tidak pernah benar-benar bisa disingkirkan.

Namun pers tidak pernah bermaksud menjadi pembangkang profesional. Ia hanya menolak ikut mabuk. Dalam masyarakat yang gemar merayakan rencana seolah-olah sudah menjadi kenyataan, pers mengingatkan bahwa niat baik belum tentu berdampak baik. 

Dalam negara yang sibuk membangun citra, pers mengajukan pertanyaan sederhana tetapi menentukan siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan, dan siapa yang diminta bersabar tanpa batas waktu.

Dalam lintasan sejarah Indonesia, pers lebih sering diperlakukan sebagai gangguan ketimbang mitra. Ia dipuji ketika sejalan, dicurigai ketika berbeda, dan dibungkam ketika terlalu jujur. 

Namun justru dalam posisi serba tidak ideal itulah pers menemukan martabatnya. Sebab pers tidak dibentuk untuk menyenangkan kekuasaan, melainkan untuk mengingatkan bahwa kekuasaan pun perlu diingatkan.

Pers dan Kekuasaan

Sejak masa kolonial, pers di Hindia Belanda sudah berfungsi sebagai alat gugatan. Surat kabar bukan hanya media informasi, tetapi juga wahana perlawanan intelektual. 

Di sanalah kata menjadi senjata, dan nalar menjadi bentuk keberanian. Tradisi ini berlanjut pada masa awal republik, ketika pers menjadi bagian dari pergulatan ide tentang arah bangsa.

Namun seiring negara tumbuh, kekuasaan pun belajar satu hal penting: bahwa kata-kata bisa berbahaya. Pada masa-masa tertentu, terutama ketika stabilitas dijadikan mantra utama, pers diminta untuk “mengerti keadaan”. Kritik dianggap mengganggu pembangunan, pertanyaan dianggap melemahkan legitimasi, dan ingatan dianggap beban yang menghambat langkah ke depan.

Di sinilah hubungan pers dan kekuasaan selalu canggung. Kekuasaan ingin dipercaya, pers ingin memeriksa. Kekuasaan ingin dirayakan, pers ingin memastikan. 

Ketegangan ini bukan anomali, melainkan kodrat. Pers yang terlalu akrab dengan kekuasaan akan kehilangan jarak, sementara kekuasaan yang alergi pada pers sedang menunjukkan ketidakpercayaan diri.

Jurnalis sebagai Tukang Catat

Dalam imajinasi publik, jurnalis sering ditempatkan di antara dua kata ekstrem, pahlawan atau pengganggu. Padahal jurnalis sejatinya bukan keduanya. Ia bukan nabi yang membawa kebenaran mutlak, juga bukan algojo yang menjatuhkan vonis. Ia hanyalah tukang catat yang kebetulan tidak mau lupa.

Ia mencatat janji agar bisa ditagih. Ia mencatat kesalahan agar tidak diwariskan. Ia mencatat kenyataan agar tidak digantikan oleh slogan.

Dalam kerja yang tampak sepele itu, pers menjalankan fungsi yang sering diremehkan, yakni menjaga ingatan publik. Bangsa yang mudah lupa adalah bangsa yang mudah diajak mengulangi kesalahan dengan wajah baru. Karena itu, pers yang rajin mengingat sering dianggap tidak tahu diri, tidak move on, atau terlalu negatif.

Godaan Kenyamanan

Jika pada masa lalu ancaman utama pers adalah represi, hari ini ancaman itu berubah rupa. Ia menjadi lebih halus, lebih ramah, dan lebih memikat. Akses mudah, kedekatan personal, dan keuntungan cepat sering kali membuat jarak kritis menyempit tanpa disadari.

Pers yang mulai lebih sibuk menjaga hubungan ketimbang menjaga pertanyaan sesungguhnya sedang kehilangan fungsinya tanpa perlu dibungkam. Tidak ada sensor yang lebih efektif daripada rasa sungkan. Tidak ada pembungkaman yang lebih rapi daripada kenyamanan.

Di titik inilah pers diuji, apakah ia tetap setia pada akal sehat, atau tergoda menjadi bagian dari dekorasi kekuasaan.

Mahbub Djunaedi dan Kritik yang Tertawa

Dalam sejarah pers Indonesia, Mahbub Djunaedi menempati posisi yang unik. Ia tidak hadir sebagai pengkhotbah moral, juga bukan sebagai orator yang berapi-api. Senjatanya adalah humor, tetapi humor yang bekerja keras secara intelektual.

Mahbub memahami satu hal penting bahwa kekuasaan paling takut bukan pada kemarahan, melainkan pada ejekan yang cerdas. Humor, dalam tangannya, bukan pelarian, tetapi metode berpikir. 

Dengan satire, ia menyampaikan kritik tanpa kehilangan keanggunan. Dengan kelakar, ia menelanjangi kesombongan tanpa harus meninggikan suara.

Ia menertawakan kekuasaan bukan karena benci, melainkan karena peduli pada kewarasan publik. Ia menyindir bukan untuk merendahkan, tetapi untuk mengingatkan bahwa tidak ada jabatan yang kebal dari akal sehat.

Dalam tradisi Mahbub, kritik tidak harus kasar agar terasa. Ia cukup tepat sasaran. Humor menjadi cara untuk menyelamatkan kebenaran dari kekakuan, sekaligus menyelamatkan kritik dari arogansi moral.

Pers di Era Kecepatan

Hari ini, tantangan pers bukan lagi sekadar kebebasan, tetapi kecepatan. Informasi bergerak lebih cepat daripada proses berpikir. Opini mendahului verifikasi. Emosi mengalahkan nalar. Dalam situasi seperti ini, pers dituntut bukan hanya cepat, tetapi juga waras.

Tidak semua yang viral layak diberitakan.

Tidak semua yang ramai penting.

Tidak semua yang populer benar.

Pers, dalam konteks ini, bukan sekadar penyampai informasi, tetapi penyaring makna. Ia membantu publik membedakan antara yang penting dan yang sekadar heboh. Tugas ini tidak selalu membuat pers disukai, tetapi justru di situlah nilainya.

Pers, Etika, dan Kerendahan Hati

Pers yang sehat tahu bahwa dirinya tidak suci. Ia sadar kata bisa keliru, data bisa salah tafsir, dan kesimpulan bisa tergesa. Karena itu, pers harus bersedia dikritik, dikoreksi, bahkan ditertawakan. Namun ada satu batas yang tidak boleh dinegosiasikan: kejujuran.

Pers boleh salah, tetapi tidak boleh berdusta. Boleh miskin modal, tetapi tidak boleh miskin nurani.

Etika pers bukan soal kesempurnaan, melainkan soal itikad. Ia bekerja bukan untuk terlihat paling benar, tetapi untuk terus berusaha jujur.

Pers tidak menjanjikan dunia yang adil. Ia terlalu realistis untuk menjual utopia. Namun ia berusaha agar ketidakadilan tidak diterima sebagai kewajaran. Ia tidak mengklaim mampu mengubah segalanya, tetapi memastikan bahwa kebohongan tidak berjalan sendirian tanpa saksi.

Akal sehat, yang diperjuangkan pers, sering kali tidak mendapat kursi kehormatan. Ia tidak diundang ke acara seremonial, tidak dipuji dalam pidato, dan jarang dianggap penting. 

Tetapi selama pers masih bertanya, masih mencatat, dan masih berani tersenyum sinis di hadapan kesombongan, selama itu pula publik memiliki alasan untuk berharap.

Karena pers, pada akhirnya, bukan tentang menjadi pahlawan atau musuh negara. Pers hanyalah upaya sederhana warga negara untuk tidak diam ketika kebodohan mulai merasa sah, dan kekuasaan mulai lupa bercermin. Selamat Hari Pers Nasional 2026. (*) 

***

*) Oleh : Yusuf Arifai, Wartawan Madya yang bergabung TIMES Indonesia sejak 2021, Dosen Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.