Amalan Sunah yang Dilakukan saat Bulan Muharam
Para ulama menyebut, ada beragam ibadah yang dianjurkan untuk diperbanyak sepanjang bulan Muharram.
Pacitan – Muharam menjadi penanda awal tahun baru Hijriah atau tahun baru Islam. Bulan ini hadir setelah Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender hijriah, sekaligus membuka lembaran baru bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah.
Dalam tradisi Islam, Muharam bukan bulan biasa. Ia termasuk salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum) yang memiliki keutamaan tersendiri. Bahkan, Muharram kerap disebut Syahrullah atau “bulan Allah”, karena di dalamnya terdapat sejumlah amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.
Para ulama menyebut, ada beragam ibadah yang dianjurkan untuk diperbanyak sepanjang bulan Muharram. Sebagian di antaranya bahkan dirangkum dalam bentuk nadham atau syair agar lebih mudah dihafal masyarakat.
Salah satu nadham yang cukup populer ditulis Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Naja was Surur fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur:
فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ
“Ada sepuluh amalan di dalam bulan Asyura, yang ditambah lagi dua amalan pelengkap. Berpuasalah, shalatlah, sambunglah silaturahim, ziarahi orang alim, jenguk orang sakit, dan bercelak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, serta membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali.”
Dari nadham tersebut, para ulama kemudian mengklasifikasikan sedikitnya 12 amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Muharram, khususnya menjelang dan saat 10 Muharam atau Hari Asyura.
Berikut amalan-amalan tersebut:
- Melaksanakan shalat sunnah
- Berpuasa sunnah
- Menyambung silaturahim
- Bersedekah
- Mandi
- Memakai celak mata
- Berziarah kepada ulama, baik yang masih hidup maupun telah wafat
- Menjenguk orang sakit
- Menambah nafkah keluarga
- Memotong kuku
- Mengusap kepala anak yatim
- Membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali
Puasa, Amalan Paling Utama di Bulan Muharam
Di antara berbagai amalan tersebut, puasa disebut sebagai ibadah yang paling utama untuk dikerjakan pada bulan Muharram.
Keutamaan puasa Muharram dijelaskan dalam hadis riwayat Abu Hurairah. Dikisahkan, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai puasa paling utama setelah Ramadan.
جاء رجل إلى النبي ضلى الله عليه وسلم فقال: أي الصيام أفضل بعد شهر رمضان؟ قال: شهر الله الذي تدعونه المحرم
Artinya, “Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, lalu bertanya: ‘Setelah Ramadhan, puasa pada bulan apa yang paling utama?’ Nabi menjawab: ‘Puasa di bulan Allah yang kalian sebut Muharram’.” (HR Ibnu Majah).
Hadis senada juga diriwayatkan Imam Muslim:
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
Artinya, “Puasa yang paling utama setelah Ramadan ialah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.”
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi dalil kuat mengenai keutamaan puasa di bulan Muharam.
Lalu mengapa Rasulullah SAW justru lebih banyak berpuasa di bulan Sya’ban dibanding Muharam?
Imam An-Nawawi memberikan dua kemungkinan penjelasan. Pertama, Rasulullah SAW dimungkinkan baru mengetahui keutamaan puasa Muharram di akhir hayat beliau. Kedua, Nabi sebenarnya telah mengetahui keutamaannya, namun tidak memperbanyak puasa karena adanya uzur seperti sakit, bepergian, atau sebab lainnya.
Penjelasan lain disampaikan Imam Al-Qurthubi sebagaimana dikutip Imam As-Suyuthi dalam Ad-Dibaj ‘ala Shahih Muslim:
إنما كان صوم المحرم أفضل الصيام من أجل أنه أول السنة المستأنفة فكان استفتاحها بالصوم الذي هو أفضل الأعمال
Artinya, “Puasa Muharam menjadi puasa yang paling utama karena ia berada di awal tahun. Maka sangat baik membuka tahun baru dengan puasa, sebab puasa termasuk amalan yang paling utama.”
Karena itu, memperbanyak puasa di bulan Muharram sangat dianjurkan sebagai bentuk mengawali tahun baru dengan amal saleh. Harapannya, semangat ibadah tersebut tidak berhenti di awal tahun saja, tetapi terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
Selain itu, banyak hadis juga menyebut anjuran berpuasa pada 10 Muharam (Hari Asyura), yang memiliki keutamaan tersendiri dalam tradisi Islam.
Ulama fikih mazhab Syafi’i, Zainuddin Al-Malibari, dalam Fathul Mu’in bahkan menempatkan Muharram sebagai bulan paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan.
Menurutnya, bulan terbaik untuk puasa sunnah setelah Ramadan adalah asyhurul hurum (bulan-bulan mulia). Di antara bulan-bulan itu, Muharram menempati posisi tertinggi, disusul Rajab, Dzulhijjah, Dzulqa’dah, Sya’ban, hingga puasa Arafah.
Muharam, dengan demikian, bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Ia menjadi momentum memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan membuka tahun baru dengan amal yang lebih baik. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.