Ramadan 2026, Pedagang Takjil di Alun-alun Pacitan Bisa Raup Cuan Tiap Hari
Geliat pedagang takjil di Alun-Alun Pacitan semakin ramai selama Ramadan 2026. Pedagang seperti Subagyo mampu meraup omzet hingga Rp300 ribu per hari dari penjualan es campur, kolak, dan aneka camilan berbuka puasa.
PACITAN – Tradisi berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa Ramadan kembali menggeliat di kawasan Alun-Alun Pacitan.
Sejak pukul 15.00 WIB, kawasan jantung kota itu mulai dipadati warga yang datang untuk ngabuburit sekaligus mencari hidangan pembuka puasa.
Lapak-lapak pedagang berjejer rapi di sisi alun-alun. Aneka gorengan, jajanan pasar, minuman dingin hingga makanan tradisional khas Jawa tersaji menggoda selera.
Aroma minyak panas bercampur wangi santan dan gula merah menyeruak di antara riuh percakapan pembeli.
Salah satu pedagang yang rutin mengais rezeki di lokasi tersebut adalah Subagyo, 50.
Warga yang tinggal di Jalan Diponegoro Nomor 35, Pacitan itu sudah empat tahun terakhir berjualan aneka camilan dan minuman segar di sekitar alun-alun.

Di lapaknya, tersaji risol, gorengan, serta berbagai makanan ringan. Namun, yang paling banyak diburu pembeli adalah es campur, es kolak, dan es dawet jowo racikannya. Semua dijual dengan harga terjangkau, Rp 5 ribu per porsi.
“Setiap bulan Ramadan, pembeli biasanya meningkat dibanding hari biasa. Banyak warga yang datang ke alun-alun untuk ngabuburit sekaligus membeli takjil,” ujar Subagyo saat ditemui di lapaknya, Minggu (2/3/2026).
Menurut dia, momentum Ramadan selalu membawa berkah tersendiri. Jika pada hari biasa penjualan cenderung stabil, selama bulan puasa lonjakan pembeli terasa signifikan, terutama menjelang azan magrib.
Warga tidak hanya datang dari sekitar kota, tetapi juga dari kecamatan lain yang sengaja mampir untuk menikmati suasana sore di pusat kota.
Subagyo mengaku sudah menyiapkan seluruh bahan sejak siang hari. Buah-buahan untuk es campur dipotong dan disimpan dalam wadah tertutup, santan untuk kolak dimasak lebih awal agar bumbu meresap sempurna, sementara gula merah cair disiapkan khusus untuk menjaga cita rasa dawet Jawa tetap otentik.
“Bahan-bahan untuk es campur selalu saya persiapkan sejak siang supaya tetap segar saat dijual. Biasanya saya mulai buka pukul tiga sore sampai magrib,” tuturnya.
Keramaian biasanya memuncak sekitar pukul 17.00 WIB. Pembeli rela mengantre demi mendapatkan takjil favorit. Tak sedikit pula yang membeli dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada keluarga di rumah.
Dalam sehari selama Ramadan, Subagyo bisa meraup omzet sekitar Rp300 ribu. Angka itu dinilai cukup membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok.
“Alhamdulillah, dari hasil penjualan bisa dapat sekitar tiga ratus ribu per hari. Lumayan untuk tambahan kebutuhan selama Ramadan,” ungkapnya.
Selain ekonomi, geliat pedagang takjil di Alun-Alun Pacitan menjadi tradisi ruang pertemuan sosial masyarakat. Anak-anak berlarian di sekitar lapangan, remaja berswafoto, sementara orang tua duduk santai menunggu waktu berbuka.
Beberapa pembeli mengaku sengaja memilih alun-alun karena suasananya yang lebih hidup dibanding berburu takjil di tempat lain.
Selain bisa memilih menu secara langsung, mereka juga dapat menikmati udara sore dan keramaian khas Ramadan.
Kehadiran pedagang seperti Subagyo ikut memperkuat denyut ekonomi kerakyatan. Usaha mikro yang dijalankan secara mandiri menjadi penopang perputaran uang di tingkat lokal.
Dengan modal terbatas, mereka mampu bertahan bahkan berkembang dari tahun ke tahun.
Empat tahun berjualan memberi pengalaman tersendiri bagi Subagyo dalam membaca selera pasar. Ia menyesuaikan jumlah produksi agar tidak berlebihan, namun tetap cukup memenuhi permintaan.
Strategi itu membuatnya jarang mengalami kerugian akibat sisa dagangan.
Ke depan, ia berharap usahanya semakin dikenal dan memiliki pelanggan tetap, tidak hanya saat Ramadan tetapi juga di hari biasa. Ia juga berkeinginan menambah variasi menu jika kondisi memungkinkan.
“Semoga usaha ini bisa terus berkembang dan pembeli semakin banyak,” harapnya.
Ramadan memang selalu menghadirkan cerita tersendiri di Alun-Alun Pacitan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

