Batagor Pak Edi Laris di Depan STKIP PGRI Pacitan, Bisa Raup Rp400 Ribu Sehari
TIMES Pacitan/Edi berjualan batagor sejak 2009 di depan STKIP PGRI Pacitan. (FOTO: Jasmin Citra for TIMES Indonesia)

Batagor Pak Edi Laris di Depan STKIP PGRI Pacitan, Bisa Raup Rp400 Ribu Sehari

Sejak 2009, pria itu setia berjualan batagor camilan khas Bandung di titik yang sama. Lokasinya strategis. Tepat di depan kampus. Pelanggannya pun jelas: mahasiswa dan pelajar.

TIMES Pacitan,Minggu 15 Februari 2026, 18:47 WIB
1.4K
Y
Yusuf Arifai

PACITANBatagor Pak Edi yang mangkal tepat di depan STKIP PGRI Pacitan adalah salah satu jajanan hits di Kabupaten Pacitan.

Kuliner yang kerap diserbu pelajar dan mahasiswa ini, dalam sehari omzetnya bisa tembus Rp400 ribu ketika ramai pembeli.

Aroma saus kacang yang gurih langsung tercium begitu mendekat ke gerobak sederhana milik Pak Edi.

Sejak 2009, pria itu setia berjualan batagor camilan khas Bandung di titik yang sama. Lokasinya strategis. Tepat di depan kampus. Pelanggannya pun jelas: mahasiswa dan pelajar.

“Kalau lagi ramai bisa sampai Rp400 ribu sehari. Tapi kalau sepi ya di bawah itu,” ujarnya, santai.

Batagor racikannya dibuat dari bahan sederhana: tepung tapioka, ikan laut, dan tahu. Semua digoreng hingga kecokelatan, lalu disiram saus kacang buatan sendiri.

Saus itu diracik dari kacang tanah dan cabai merah. Rasanya legit, sedikit pedas, pas di lidah anak muda.

Pak Edi mengaku memilih usaha ini karena relatif mudah dijalankan. Modalnya tidak terlalu besar. Bahan baku juga gampang didapat. Yang penting, katanya, telaten.

“Jualan makanan itu kuncinya sabar dan telaten. Alhamdulillah yang suka batagor juga banyak,” tuturnya.

Meski terlihat sederhana, ia tetap berhitung cermat. Porsi dibuat sesuai permintaan pembeli. Harga pun fleksibel. Bisa menyesuaikan isi kantong. Menurutnya, tidak semua pembeli adalah orang dewasa dengan uang lebih.

Karena itu, ia menghindari membuat terlalu banyak adonan dalam sekali waktu. Risiko rugi harus ditekan. Apalagi pendapatan sangat bergantung pada ramai tidaknya pembeli hari itu.

Selama hampir 17 tahun berjualan, Pak Edi masih menggunakan gerobak. Ia mengaku ingin suatu saat punya lapak tetap agar tidak terus berada di tepi jalan. Namun, ia sadar semua butuh proses.

“Ibarat naik tangga, tidak mungkin langsung ke anak tangga ketiga,” katanya, tersenyum.

Pelan tapi pasti, Pak Edi terus menapaki usahanya. Bersama gerobak dan batagor yang setiap hari ia goreng hangat-hangat, ia menjaga harapan tetap menyala. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.