https://pacitan.times.co.id/
Berita

Tak Ada Anggaran, Pasar Terdampak Cuaca Ekstrem di Pacitan Diperbaiki Swadaya

Selasa, 03 Februari 2026 - 13:26
Tak Ada Anggaran, Pasar Terdampak Cuaca Ekstrem di Pacitan Diperbaiki Swadaya Ris plang Pasar Nawangan Pacitan yang terlepas usai dihempas cuaca ekstrem angin kencang beberapa waktu lalu diperbaiki secara swadaya lantaran tidak ada anggaran. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES PACITAN, PACITAN – Sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pacitan yang rusak akibat cuaca ekstrem terpaksa diperbaiki secara swadaya. 

Pasalnya, pada tahun 2026 ini, Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Pacitan tidak memiliki anggaran khusus untuk perbaikan pasar.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disdagnaker Pacitan, Bambang Surono, mengatakan, pasar yang terdampak angin kencang disertai hujan lebat antara lain Pasar Nawangan, Gondosari, Arjowinangun, dan Donorojo. 

Dari keempat pasar tersebut, kerusakan terparah terjadi di Pasar Nawangan dan Gondosari.

“Angin kencang sampai menghempaskan atap saat hujan. Dua hari setelah kejadian, baru bisa dilakukan perbaikan darurat,” ujar Bambang, Selasa (3/2/2026).

Perbaikan dilakukan agar pedagang bisa kembali beraktivitas. Selama dua hari pascakejadian, aktivitas jual beli sempat terganggu.

Cuaca ekstrem melanda Pacitan selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu (23–25 Januari 2026). Di Pasar Nawangan, angin kencang bertiup hampir dua hari dua malam. Sejumlah rangka besi dan papan reklame di bagian depan pasar ikut terhempas karena tidak kuat menahan angin.

Sementara di Pasar Gondosari, sebagian atap terlepas. Beberapa bangunan juga diketahui sudah lapuk karena usia.

“Bagian yang membahayakan pedagang dan pengunjung langsung kami lepas. Penanganannya masih darurat, yang penting aman dulu,” jelasnya.

Bambang mengaku belum menghitung secara rinci total kerugian. Namun, estimasi kerusakan di Pasar Nawangan mencapai sekitar Rp25 juta. Sementara di Pasar Gondosari berkisar Rp15 juta hingga Rp20 juta.

“Kami langsung perbaiki sebisanya. Yang bisa ditangani, ya langsung ditangani,” katanya.

Ia menyebut, sebagian besar bangunan pasar di Pacitan rata-rata sudah berusia lebih dari 10 tahun. Kondisi tersebut membuat banyak bagian seperti atap, talang, dan genteng sudah waktunya diperbaiki.

“Kalau membangun ulang butuh biaya besar. Jadi sementara masih tambal sulam,” ujarnya.

Keterbatasan anggaran menjadi kendala utama. Tahun ini, Disdagnaker Pacitan, khususnya bidang pengelolaan pasar, tidak mendapatkan alokasi dana perawatan.

“Tahun ini nol anggaran untuk perbaikan,” tegas Bambang.

Akhirnya, perbaikan dilakukan secara gotong royong bersama paguyuban pedagang dan pengelola pasar. Sebagian tenaga bahkan bekerja tanpa bayaran.

“Ada yang swadaya, ada yang benar-benar tanpa biaya sepeser pun,” katanya.

Ia menambahkan, usulan anggaran perbaikan sudah disampaikan dalam rapat koordinasi dan diajukan ke Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Harapannya, melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), kerusakan ringan bisa segera ditangani.

“Hampir semua pasar butuh perbaikan ringan, mulai dari atap bocor sampai saluran air mampet,” ungkapnya.

Menurut Bambang, kondisi keuangan daerah membuat pihaknya harus mengoptimalkan kearifan lokal dan peran paguyuban pedagang.

“Peran paguyuban luar biasa. Mereka yang paling sering mengeluh, tapi juga paling aktif membantu,” katanya.

Sebagai informasi, Kabupaten Pacitan memiliki 15 pasar tradisional yang dikelola langsung pemerintah daerah. Selain itu, terdapat 68 pasar desa yang tersebar di berbagai kecamatan hingga tahun 2024.

Beberapa pasar daerah di Pacitan antara lain Pasar Minulyo di Baleharjo, Pasar Arjowinangun di pusat kota, Pasar Arjosari di jalur Pacitan–Ponorogo, Pasar Pon di Semanten, serta Pasar Sayur Kota Pacitan. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Pacitan just now

Welcome to TIMES Pacitan

TIMES Pacitan is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.