Nuzulul Quran Malam 17 Ramadan, Mengapa Beda dengan Lailatul Qadar?
Nuzulul Quran lazim diperingati pada malam 17 Ramadan, sementara Lailatul Qadar diyakini hadir pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan suci.
JAKARTA – Malam ke-17 Ramadan kerap diperingati umat Islam sebagai Nuzulul Quran, momentum turunnya Al-Quran untuk pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW.
Namun di sisi lain, Al-Quran sendiri menyebut bahwa kitab suci itu diturunkan pada Lailatul Qadar, malam yang diyakini berada pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Lalu mengapa keduanya tampak berbeda?
Perbedaan inilah yang sering memunculkan pertanyaan di tengah umat. Nuzulul Quran lazim diperingati pada malam 17 Ramadan, sementara Lailatul Qadar diyakini hadir pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan suci.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 1–5:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr: 1–5).
Para ulama kemudian menjelaskan ayat tersebut dengan beberapa pandangan. Perbedaan pendapat muncul pada kata ganti “hu” dalam ayat pertama yang merujuk kepada Al-Quran. Apakah yang dimaksud adalah seluruh Al-Quran atau hanya sebagian.
Sebagian ulama berpendapat, Al-Quran diturunkan secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia. Setelah itu, wahyu diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun.
Pendapat ini merujuk pada riwayat dari Ibnu Abbas RA yang menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan secara keseluruhan pada Lailatul Qadar, lalu setelahnya diturunkan sedikit demi sedikit kepada Rasulullah SAW. Riwayat ini disebutkan oleh Imam Ath-Thabrani.
Sementara itu, tradisi memperingati Nuzulul Quran pada 17 Ramadan lebih merujuk pada momentum turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Saat itu Rasulullah tengah berkhalwat di Gua Hira, yang berada di Jabal Nur, sekitar enam kilometer dari Kota Makkah.
Pada usia sekitar 41 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama berupa lima ayat awal Surat Al-‘Alaq.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Karena itulah, peringatan Nuzulul Quran yang selama ini dilakukan umat Islam - biasanya melalui pengajian atau tabligh akbar - lebih dimaksudkan sebagai peringatan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, bukan turunnya Al-Quran secara keseluruhan.
Adapun Lailatul Qadar dipahami sebagai malam ketika Al-Quran diturunkan dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia.
Malam itu digambarkan memiliki suasana yang sangat tenang. Dalam berbagai riwayat disebutkan langit tampak bersih, udara tidak terlalu panas dan tidak pula dingin, serta dipenuhi kedamaian hingga terbit fajar.
Dengan demikian, Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar sebenarnya tidak saling bertentangan. Keduanya hanya merujuk pada dua tahap berbeda dalam proses turunnya Al-Quran.
Satu sebagai awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, sementara yang lain sebagai momentum agung turunnya Al-Quran dari sisi Allah SWT ke langit dunia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


