Irigasi Perpompaan di Pacitan Baru Jangkau 7 Persen Sawah, Produktivitas Padi Terancam Susut
Pemerintah daerah terus berupaya memperluas infrastruktur irigasi untuk meningkatkan indeks pertanaman, terutama di lahan yang memiliki potensi sumber air.
PACITAN – Jaringan irigasi perpompaan dan perpipaan di Kabupaten Pacitan saat ini baru mampu mengairi sekitar 1.000 hektar lahan atau sekitar 7 persen dari total luas baku sawah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjaga produksi padi di tengah ancaman musim kemarau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan Sugeng Santoso mengatakan, pemanfaatan sumur bor, perpompaan dan aliran sungai menjadi andalan untuk mempertahankan areal tanam padi yang masih memiliki sumber air.
Menurutnya, sesuai arahan dari Kementan, agar diupayakan lahan pertanian yang ada potensi air untuk irigasi, baik dari sumur bor maupun sungai, tetap diupayakan untuk bisa dilakukan tanam padi.
"Selain itu dilakukan antisipasi serangan hama yang mungkin berpotensi bisa mengganggu pertumbuhan tanaman padi," kata Sugeng kepada TIMES Indondesia, Selasa (30/6/2026).
Menurut Sugeng, bantuan sumur bor maupun jaringan irigasi berbasis perpompaan telah tersedia di seluruh 12 kecamatan.
Namun demikian, cakupan lahan yang dapat dilayani masih terbatas. "Merata di 12 kec ada," ujarnya.
Ia menyebut jaringan perpompaan dan perpipaan yang telah dibangun baru mampu mengairi sekitar 1.000 hektar sawah atau sekitar 7 persen dari total luas baku sawah di Kabupaten Pacitan.
"Itu dari perpompaan maupun perpipaan yang sudah terbangun, semoga bisa terus bertambah," katanya.
Pemerintah daerah, lanjut Sugeng, terus berupaya memperluas infrastruktur irigasi untuk meningkatkan indeks pertanaman, terutama di lahan yang memiliki potensi sumber air.
"Upaya dari pemerintah terus dilakukan untuk dapat memfasilitasi petani yang memang memiliki potensi lahan untuk ditingkatkan IP-nya dan ada potensi air untuk irigasi di lokasi tersebut," tambahnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas baku sawah di Kabupaten Pacitan pada 2026 mencapai sekitar 14.264 hektar.
Sementara itu, musim kemarau tahun ini diprakirakan berlangsung lebih panjang dengan puncaknya pada Agustus.
Pacitan juga telah berstatus waspada kekeringan setelah mengalami 21 hari tanpa hujan berturut-turut, sementara sedikitnya 34 desa dipetakan berpotensi mengalami krisis air bersih. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.