Hardiknas 2026, Dindik Pacitan Dorong Guru SD Lawan Opini Negatif dengan Jurnalisme Positif
Kepala Dindik Pacitan berharap guru aktif mengisi ruang publik dengan konten positif tentang pendidikan.
PACITAN – Menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan (Dindik Pacitan), Khemal Pandu Pratikna mendorong guru sekolah dasar (SD) menjadi motor jurnalisme positif.
Hal itu disampaikannya saat membuka pelatihan jurnalistik 'Guru Melek Digital' kolaborasi media online TIMES Indonesia di Gedung Karya Dharma Wanita Pacitan, Kamis (30/4/2026).
“Kebijakan pemerintah ternyata dipengaruhi oleh opini publik. Pertanyaannya, bagaimana opini publik terhadap sosok? Baik PNS, maupun PPPK. Biasanya oleh publik dijadikan bahan diskusi yang kemudian viral. Biasanya kan ada bad news is a good news, kecuali TIMES Indonesia istimewa,” ujarnya.
Ia menilai, dunia pendidikan kerap disorot dari sisi negatif, sementara suara positif minim muncul ke publik. “Guru sudah soal kesejahteraan bla bla bla, masih harus dihadapkan dengan komen publik,” lanjutnya.

Menurutnya, pelatihan jurnalistik menjadi penting agar guru berani menyampaikan fakta dan gagasan secara benar.
“Maka apa urgensinya pelatihan jurnalistik? Ketika dunia maya khususnya pendidikan dipenuhi berita negatif dan diyakini masyarakat bahwa itu kebenaran, padahal itu kebohongan, repotnya orang yang melek media itu diam tidak merespon. Sehingga ruang publik dipenuhi berita buruk,” tegasnya.
Ia berharap guru aktif mengisi ruang publik dengan konten positif tentang pendidikan. “Maka para guru dilatih untuk berani menuangkan ide ide gagasan untuk melawan opini negatif tentang pendidikan kita,” katanya.
Setelah pelatihan, peserta diminta produktif menulis. “Ada lima jatah berita selama sebulan yang harus kalian manfaatkan pasca pelatihan ini untuk memperbaiki kinerja untuk anak anak didik kita. Ini tidak sekedar formalitas saja,” ujarnya.
Ia meyakini, konsistensi menulis dapat memengaruhi opini publik dan mendukung kebijakan pendidikan.
“Bisa jadi rekan rekan PNS tadi jika terus menerus menuliskan hal baik tentang kinerja, lingkungan sekolah dll bisa mempengaruhi opini publik sehingga membantu pemerintah untuk sama sama perjuangkan saudara saudara kita yang belum PNS,” tambahnya.
Ia juga mendorong guru menggali potensi lokal di wilayah masing-masing. Harapannya para guru serius bekerja, memperbaiki dinamika pendidikan setempat.
"Sekaligus menggali potensi kearifan yang ada di wilayah kecamatan masing-masing. Misalnya soal wisata, menjadi biasa saja bagi orang lokal, tapi berbeda dan istimewa bagi orang luar daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Biro TIMES Indonesia Pacitan, Rojihan, menyebut setiap guru mendapat kuota menulis lima berita selama sebulan.
“Kegiatan dan prestasi masing masing sekolah bisa kalian tulis. Ini komitmen kami bersama Dindik Pacitan dalam rangka mendorong konstruksi berita yang baik. Jangan sampai berita negatif jadi konsumsi publik,” ujarnya.
Ia menegaskan setiap sekolah memiliki potensi yang layak dipublikasikan.
“Setiap sekolah pasti punya potensi dan prestasi yang patut kita syiarkan bersama melalui jurnalisme positif dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sebanyak 61 guru SD negeri dan swasta se-Pacitan mengikuti pelatihan tersebut.
Dalam kesempatan itu, tiga guru SMP dengan karya terbaik, foto terbaik, dan jumlah pembaca terbanyak dari pelatihan sebelumnya menerima e-koran TIMES Indonesia. Kepala Dindik Pacitan juga menerima cendera mata e-koran atas dukungannya dalam inovasi pendidikan di Pacitan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.