Gandeng TIMES Indonesia, Guru SD se-Kabupaten Pacitan Jadi Pelopor Jurnalisme Positif
Sejak awal pelatihan, arah yang dibangun cukup jelas bahwa guru harus bisa menulis dengan standar jurnalistik, sekaligus memahami bagaimana tulisan bisa menjadi alat branding sekolah.
PACITAN – Puluhan guru sekolah dasar (SD) di Kabupaten Pacitan kini tak hanya dituntut piawai mengajar di kelas. Mereka juga disiapkan menjadi penulis berita, bahkan pelopor jurnalisme positif untuk mengangkat wajah sekolah masing-masing.
Langkah itu muncul dalam pelatihan jurnalistik bertajuk 'Guru Melek Digital' yang digelar Dinas Pendidikan Pacitan bekerja sama dengan TIMES Indonesia.
Kegiatan ini bukan sekadar teori menulis, tapi juga mengasah cara guru menyampaikan cerita baik dari sekolahnya ke ruang publik.
Sejak awal pelatihan, arah yang dibangun cukup jelas bahwa guru harus bisa menulis dengan standar jurnalistik, sekaligus memahami bagaimana tulisan bisa menjadi alat branding sekolah.
Chief Marketing Officer TIMES Indonesia, Bambang H Irwanto, dalam pemaparannya menekankan pentingnya kualitas tulisan.

Ia mengingatkan bahwa tulisan yang baik bukan hanya menarik, tapi juga kuat dari sisi data dan sesuai kaidah jurnalistik.
“Menulis yang baik agar layak dibaca lengkap datanya dan memenuhi kaidah jurnalistik,” paparnya, Kamis (30/4/2026).
Tak berhenti di situ, materi yang diberikan juga menyentuh ranah yang lebih praktis. Guru diajak memaksimalkan media sosial sebagai etalase sekolah, sekaligus memahami pentingnya visual.
“Materi ini optimalisasi medsos sebagai sarana promosi sekolah,” lanjutnya.
Selain itu, peserta juga dibekali teknik dasar fotografi agar hasil gambar yang dihasilkan tidak sekadar dokumentasi, tetapi punya nilai jual. “Materi fotografi sehingga hasil foto layak dan strategi sebagai media promosi sekolah,” imbuhnya.
Bambang menegaskan, pelatihan ini membuka ruang luas bagi sekolah untuk lebih percaya diri menampilkan keunggulannya ke publik.

“Kami memberi kesempatan luas agar sekolah di Pacitan mampu menulis dan publikasi keunggulannya, hal positifnya dan inovasinya bahwa yang baik perlu diketahui publik,” tegasnya.
Selama pelatihan berlangsung, suasana kelas jauh dari kata kaku. Para guru terlihat aktif, bahkan cepat beradaptasi saat praktik menulis berita.
Tak sedikit yang langsung mampu merangkai tulisan layak publikasi.
Menariknya, sesi pelatihan juga diselingi permainan reflektif yang membuat suasana tetap hidup. Metode ini terbukti ampuh menjaga semangat peserta, sekaligus memperkuat pemahaman materi yang diberikan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.