Momentum Hari Kartini, Ketua Umum PB PGRI Dorong STKIP PGRI Pacitan Jadi Universitas
Ketua Umum PB PGRI dorong STKIP PGRI Pacitan bertransformasi jadi universitas dalam 1–1,5 tahun, menjadikan Hari Kartini momentum lompatan besar pendidikan di Pacitan.
PACITAN – Peringatan Hari Kartini 2026 dimanfaatkan Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, untuk mendorong lompatan besar dunia pendidikan di Pacitan.
Di hadapan civitas akademika, ia mengajak STKIP PGRI Pacitan bertransformasi menjadi universitas, sebuah langkah yang disebutnya sejalan dengan semangat emansipasi Kartini.
Pesan itu disampaikan saat pelantikan dan pengukuhan pengurus serta pengawas PPLP-PT PGRI Pacitan masa bakti 2026–2030 di aula kampus setempat, Selasa (21/4/2026).
Bagi Unifah, Kartini bukan sekadar simbol peringatan tahunan. Lebih dari itu, Kartini adalah keberanian berpikir dan melompat maju sekaligus nilai yang menurutnya harus diterjemahkan dalam langkah konkret, termasuk di dunia kampus.
“Hari ini Hari Kartini, Kartini bukan soal jumlah tapi adalah kebebasan berpikir untuk mencapai kemajuan yang luar biasa,” ujarnya.
Dari situlah, ia mengaitkan semangat Kartini dengan masa depan STKIP PGRI Pacitan. Kampus, kata dia, tidak boleh berjalan di tempat ketika perubahan terus bergerak cepat.

“Pacitan memang menarik bagi saya, ia melahirkan presiden, saya berharap sebuah perubahan muncul dari sini. Saya berharap STKIP PGRI Pacitan jadi universitas,” ucapnya.
Ia bahkan memasang target yang cukup ambisius. Dalam kurun waktu sekitar satu hingga satu setengah tahun, ia berharap status universitas bisa terwujud, selama ada dukungan serius dari berbagai pihak.
“Mari kita bangun kampus ini dan kita beri waktu paling lama satu tahun-tahun setengah dengan dukungan dari pemda dan kawan-kawan untuk menjadi universitas,” tegasnya.
Menurut Unifah, momentum seperti Hari Kartini seharusnya menjadi pengingat bahwa perubahan tidak bisa ditunda. Ia mengingatkan, berbagai kemudahan regulasi dari pemerintah saat ini bisa saja tidak berlangsung lama.
“Jangan sampai terlambat melakukan perubahan, merger, akuisisi dan sebagainya itu nggak selamanya diberikan kemudahan oleh pemerintah RI,” katanya.
Ia juga menyinggung pentingnya kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah, terutama dalam penguatan riset dan pengembangan sumber daya manusia.
“Saya sedih di sini tempat orang-orang pintar. Tolong bupati, DPR, kadisdik tolong dibantu karena kampus ini harus ada riset bersama untuk pengembangan SDM bersama kampus,” ucapnya.

Di sisi lain, Unifah melihat peluang besar dari program nasional peningkatan kualifikasi guru. Ribuan guru yang belum sarjana dinilai bisa menjadi kekuatan sekaligus pasar potensial bagi kampus.
“Sampaikan kepada Pak Bupati… saat ini menyempurnakan 280.000 guru yang belum S1 dengan RPL 2 tahun… jadi ajaklah para pegawai yang belum S1,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, mengaku pihaknya sudah mulai menyiapkan berbagai kebutuhan menuju universitas, baik dari sisi kelayakan maupun sumber daya manusia.
“Kami sudah upayakan, mudah-mudahan doa dari seluruh masyarakat step by step impian itu menjadi terwujud,” ujarnya.
Pengurus Baru PPLP-PT PGRI Pacitan Resmi Dilantik
Kini, pengurus baru PPLP-PT PGRI Pacitan masa bakti 2026–2031 resmi dilantik. Mereka langsung dihadapkan pada tantangan besar dunia pendidikan tinggi yang terus bergerak cepat dan menuntut adaptasi.
Pelantikan berlangsung di Aula STKIP PGRI Pacitan. Surat Keputusan pengangkatan dibacakan Sekretaris PGRI Jawa Timur, Drs. Edy Wuryanto, sebelum prosesi pelantikan dan pengukuhan dilakukan.
Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, memimpin langsung pengambilan sumpah jabatan.
Momen itu menandai dimulainya kerja kepengurusan baru dalam mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan tinggi di bawah PGRI Pacitan.
Ketua PGRI Jawa Timur, Dr. Djoko Adi Walujo, mengingatkan bahwa tantangan pendidikan tinggi kini tidak lagi statis.
“Pengurus harus adaptif menghadapi perubahan yang sangat cepat,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua BPLP PGRI, Prof. Dr. Supardi Uki Sajiman. Menurutnya, dinamika global, perkembangan teknologi, hingga tuntutan kualitas lulusan menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.
Prosesi pengukuhan ditandai pembacaan pakta integritas oleh pengurus baru, dipimpin ketua terlantik.
Penandatanganan dilakukan di hadapan jajaran pimpinan PGRI sebagai bentuk komitmen menjalankan amanah organisasi.
Setelah itu, estafet kepemimpinan resmi berpindah. Ketua lama Drs. H. Sujono menyerahkan memori jabatan kepada ketua baru, Prof. Dr. Drs. H. Maryono, B.A., M.M.
Dalam sambutannya, Maryono menegaskan pihaknya siap melanjutkan program yang sudah berjalan, sekaligus melakukan penyesuaian dengan tuntutan zaman.
“Ke depan tentu harus ada penguatan, terutama menjawab kebutuhan pendidikan yang terus berkembang,” ujarnya.
Pelantikan yang bertepatan dengan Hari Kartini itu juga diwarnai penyerahan buket sebagai simbol penghormatan terhadap peran perempuan dalam pendidikan.
Rangkaian acara berlangsung sejak pagi, mulai dari penampilan tari pembuka, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga ditutup dengan doa dan ramah tamah.
Dengan formasi baru ini, PPLP-PT PGRI Pacitan tak punya banyak waktu untuk beradaptasi. Perubahan sudah di depan mata dan mereka dituntut bergerak cepat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.