Tembus 277 Ribu Viewers, Tulisan Guru SMP di Pacitan Ini Jadi Magnet Pembaca
Karya jurnalistik berjudul 'Polres Pacitan Tegaskan Larangan Pelajar Bawa Motor, Kendaraan Langsung Diamankan' menjadi magnet pembaca mencapai yang mencapai 277.2 ribu viewers.
PACITAN – Anik Yulaika, guru SMPN 1 Arjosari Pacitan mencatatkan namanya sebagai peraih viewers terbanyak dalam program Guru Melek Digital TIMES Indonesia yang berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan.
Karya jurnalistik berjudul 'Polres Pacitan Tegaskan Larangan Pelajar Bawa Motor, Kendaraan Langsung Diamankan' menjadi magnet pembaca mencapai yang mencapai 277.2 ribu viewers.
Artikel tersebut tak hanya ramai dikunjungi, tapi juga dinilai menyentuh isu yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Bagi Anik, capaian itu datang di luar dugaan. Ia mengaku perasaannya campur aduk saat mengetahui tulisannya mendapat perhatian luas.
“Rasanya sangat campur aduk antara bangga, syukur, dan tidak menyangka. Ada kepuasan batin yang sulit dilukiskan karena ini jadi bukti bahwa kegiatan dan inovasi di sekolah kami ternyata punya nilai berita,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Lebih dari sekadar angka, menurutnya, capaian tersebut menjadi semacam validasi. Bahwa narasi yang ditulis dengan kesungguhan bisa benar-benar sampai dan diterima pembaca.
Di balik keberhasilan itu, Anik tak menampik peran pelatihan jurnalistik Guru Melek Digital yang diikutinya. Ia menyebut program tersebut menjadi titik balik dalam cara pandangnya terhadap literasi di era digital.
“Sebagai pendidik, kita tidak bisa hanya jadi konsumen informasi. Kita juga harus bisa memproduksi konten yang edukatif,” ungkapnya.
Dari pelatihan itu, ia mulai memahami perbedaan antara sekadar laporan dengan karya jurnalistik yang punya nilai dan daya tarik.
Kecepatan, akurasi, hingga cara mengemas informasi menjadi hal yang kini lebih ia perhatikan, terutama untuk menjangkau pembaca dari kalangan pelajar hingga generasi Z.
Ke depan, Anik menargetkan konsistensi. Ia ingin kemampuan menulisnya terus terasah, agar setiap capaian siswa maupun inovasi sekolah tidak hilang begitu saja tanpa dokumentasi.
Ia juga berharap gerakan Guru Melek Digital tak berhenti pada dirinya. Menurutnya, setiap sekolah perlu memiliki “suara” di ruang publik untuk membangun citra positif pendidikan.
“Harapannya bisa menular ke guru lain. Supaya sekolah punya ruang untuk bercerita di media massa,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Anik berencana ikut mengelola website maupun media sosial sekolah dengan pendekatan jurnalistik yang lebih rapi.
Ia juga ingin berbagi pengetahuan dasar kepenulisan kepada rekan guru dan staf. Tak berhenti di situ, ia bahkan menargetkan siswa ikut terlibat.
Literasi digital, menurutnya, harus ditanamkan sejak dini agar pelajar tak hanya aktif di media sosial, tapi juga bijak dan mampu menyampaikan hal-hal positif melalui tulisan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.