Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan Disiapkan Hadapi Era Digital Lewat Pelatihan AI
Mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan mengikuti pelatihan kecerdasan buatan (AI) sebagai bagian dari program transformasi digital pesantren, Selasa (28/4/2026). (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Pacitan Disiapkan Hadapi Era Digital Lewat Pelatihan AI

Pelatihan AI di Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan dorong santri adaptif di era digital, padukan teknologi, etika, dan nilai spiritual dalam pembelajaran.

TIMES Pacitan,Selasa 28 April 2026, 18:45 WIB
227
Y
Yusuf Arifai

PACITANArus perkembangan teknologi yang kian cepat mendorong dunia pesantren untuk berbenah. Upaya itu salah satunya tampak dalam pelatihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang diikuti para mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi Pacitan, Selasa (28/4/2026). 

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Multipurpose IAI Attarmasi dan menjadi bagian dari gerakan “Transformasi Pesantren Cakap Digital” yang digagas Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Pelatihan tersebut tak sekadar mengenalkan teknologi, tetapi juga menekankan pentingnya kesiapan pesantren menghadapi perubahan zaman. 

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, secara tegas mengingatkan bahwa lembaga pendidikan Islam tidak boleh tertinggal dalam arus transformasi digital.

“Pesantren harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman saat ini, agar tidak punah seperti spesies dalam sejarah yang hilang karena gagal menyesuaikan diri pada situasi baru,” tegas Gus Yahya dalam sambutannya secara virtual.

Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa pesantren tidak lagi bisa hanya mengandalkan metode konvensional. Adaptasi teknologi menjadi keniscayaan, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai dasar yang selama ini dijaga.

Dalam konteks itulah, pelatihan AI di Pacitan dirancang bukan sekadar transfer keterampilan teknis. Lebih dari itu, kegiatan ini mencoba menjembatani antara kemajuan teknologi dengan nilai akhlakul karimah yang menjadi fondasi pendidikan pesantren.

article

Gus Yahya menegaskan, penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan etika. Santri dan tenaga pengajar didorong tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami batasan serta tanggung jawab moral dalam pemanfaatannya.

Pelatihan ini diikuti oleh beragam peserta, mulai dari santri PIP Tremas, mahasiswa IAI At-Tarmasi, hingga mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi. Mereka mendapatkan materi yang cukup komprehensif, mulai dari praktik penggunaan teknologi hingga refleksi nilai.

Salah satu materi utama adalah pemanfaatan Microsoft Copilot AI yang terintegrasi dalam ekosistem Microsoft 365. Dalam sesi ini, peserta diajak langsung mencoba bagaimana AI dapat membantu pekerjaan akademik, mulai dari merangkum data hingga menyusun dokumen.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan terkait etika penggunaan AI. Materi ini menekankan bahwa teknologi tidak pernah netral. Tanpa kendali nilai, AI berpotensi menimbulkan dampak negatif. Karena itu, prinsip keadilan, transparansi, dan orientasi pada kemaslahatan manusia menjadi poin penting yang ditekankan.

Tak kalah penting, pelatihan juga menyentuh aspek Spiritual Intelligence (SQ). Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa kecanggihan teknologi harus tetap berakar pada kesadaran makna dan nilai hidup. Dengan begitu, penggunaan AI tidak sekadar efisien, tetapi juga bijaksana.

Bagi para peserta, pengalaman ini memberikan perspektif baru. Salah satunya diungkapkan oleh mahasantri Ma’had Aly At-Tarmasi, Fahrul Mukmimin. Ia mengaku pelatihan tersebut mengubah cara pandangnya terhadap teknologi AI.

“Pengalaman ini membuka mata saya bahwa AI mampu menyederhanakan analisis data rumit hingga menyusun draf dokumen berkualitas dalam hitungan detik. Dengan integrasi Microsoft 365, kami bisa lebih fokus pada aspek kreatif dan pengambilan keputusan, sementara tugas administratif yang repetitif dapat didelegasikan ke AI,” ujarnya.

Pengakuan Fahrul mencerminkan bagaimana teknologi, jika digunakan dengan tepat, dapat menjadi alat pemberdayaan. Bukan menggantikan peran manusia, tetapi justru memperkuat kapasitas berpikir dan berkarya.

Ke depan, pelatihan semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pesantren diharapkan mampu menginternalisasi pemanfaatan teknologi dalam proses belajar-mengajar sehari-hari.

Dengan bekal ini, santri Tremas tidak hanya dikenal sebagai penjaga tradisi keilmuan kitab kuning, tetapi juga sebagai generasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Mereka diharapkan mampu menjadi jembatan antara warisan intelektual Islam dan tantangan dunia digital yang terus berkembang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Pacitan, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.